Tuesday, August 29, 2006

THINK AND ACT

Sedikit pake judul boso londho gak papa. Simbah mengamati ada beberapa type manusia dilihat dari motivasi amal dan kelakuan mereka. Motivasi ini biasa disebut niat di dalam amal manusia.

1. Think locally and act locally
Ini model pekerja yang terlalu nggethu kerja, untuk mengejar setoran demi kebutuhan domestiknya. (Hayyah, bosone ra nguati) Maksudnya type orang yang bekerja –di mana saja dia bekerja- yang motivasi kerjanya hanya melulu demi keperluan pribadinya. Ataupun kalo gak mau disebut keperluan pribadi, ya keperluan pribadi dan kelompoknya. Padahal sebenarnya boleh jadi apa yang dia perbuat itu bisa bermanfaat demi keperluan manusia banyak. Tapi target kerjanya hanya melulu demi sesuap nasi, demi mulut sang isteri (agar tetep bisa makan dan tidak nyerocos), agar bisa bayar SPP anaknya dlsb.

Ini model tukang bangunan yang saat membangun suatu gedung dia ditanya, “Lagi ngapain loh?” Dia jawab dengan enteng, “Gue sedang menumpuk bata, kagak liat emang mata lo?” Padahal dia sedang membangun suatu gedung pencakar langi

2. Think locally and act Globally
Ini model orang yang suka biayakan ke sana kemari, kembola-kembali ngrambah negara manca, deal sana-deal sini, bahkan kalo perlu sampe angkasa luar dikangkanginya. Namun tetap saja niat dan motivasinya demi kocek, demi anak-isteri atau demi keluarga. Tidak lebih. Pecicilannya sampai kesana-kemari itu underannya melulu demi kemanfaatan segelintir orang saja.

Orang ini mungkin negosiator ulung, biasanya diberi kesempatan menjelajah dunia. Tapi ya itu… tetep motivator utamanya cuma demi kepentingan diri dan klannya saja. Koruptor dan kolutor memiliki sifat ini.

3. Think Globally and Act locally
Nah ini paporit simbah. Model manusia ini adalah orang mau peduli terhadap kepentingan manusia banyak. Meskipun yang dilakukannya terbatas di ruang lingkup tertentu, namun efek dari tindakannya memberikan efek global.

Ini model tukang bangunan yang saat menata batu bata di suatu sudut proyek bangunan ditanya, “Lagi ngapain loh?” Dia jawab dengan mantab, “Gue lagi mendirikan gedung pencakar langit, emang merem mata lo, sampe kagak liat gue mbangun ini gedung?”

Perlu diketahui, Rasulullah Muhammad saw merupakan profil yang tepat untuk manusia golongan ketiga ini. Berpikir untuk seluruh alam, namun dengan aksi lokal yang menjadi prototype kerja besar seluruh dunia.

4. Think Globally and Act Globally.
Ini jenis manusia langka. Mungkin anda berpikir ini lebih tepat buat propil seorang sekjen PBB. Halah, belum tentu. Sekjen PBB itu bisa masuk kategori kedua. Biayakannya ke sono-kemarinya hanya demi urusan duit, atau agak luas lagi demi mengharumkan nama bangsanya, atau agak lebih luas lagi demi negara-negara yang mensponsorinya.

Atau anda berpikir ini lebih tepat buat propil seorang Miss Universe dengan segala misinya. Hayyah… lebih gak ngambah lemah lagi. Wong ini orang wira-wiri berdiri dengan segudang sponsor di belakangnya kok. Keliatannya nyantuni korban bencana, nengok anak-anak yatim, kunjungan ke Panti Jompo, tapi ya intinya gimana produk yang mensponsorinya bisa laku dan laris, mengangkat image produk sambil sedikit pamer body semlohai kesana-kemari, siapa tahu ada duda milyarder sempat nglirik dan besoknya nglamar….. (Simbah embel-embeli: “yah, gak semuanya begitu sih”)

Klasifikasi ini boleh jadi dianggap mbambung saja. Agak mentereng karena pake boso londho gak ketang sak ndulit. Meskipun begitu, coba dipikir, sampeyan masuk kategori yang manah

Sunday, August 27, 2006

KAPIR MISKIN

Judul kok ciloko mencit. Udah miskin, kapir lagi. Tapi begitulah hidup manusia. Simbah banyak menyaksikan kemiskinan yang dibalut tingkah laku kekafiran. Ada yang berdalil, kefakiran memang lebih dekat kepada kekafiran. Omong kosong, ini bukan dalil, ini dalih saja. Mengkambingkan hitamkan kefakiran dan kemiskinan.

Memang banyak kejadian kejahatan yang didorong oleh terdesaknya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Pelacuran, penjarahan, perampokan, penodongan, pembunuhan, penjambretan dan tindakan kriminil lainnya. Yang terakhir yang mbikin simbah sempat mem"bangsat-bangsat"kan dalam hati adalah tindakan premanisme berujung pembunuhan di kampus IKIP NTB. Tindakan Kapir oleh preman miskin, guna menyambung hidup, mengakhiri hidup.

Sekilas kemiskinan merekalah yang mendorong kekapiran mereka. Padahal beking si orang miskin ini orang-orang kaya. Betul di lapangan si kaum papa ini yang bertindak kriminil. Tapi yang di belakang mereka adalah wong-wong sugih mblegedhu.



Simbah punya langganan di bengkel, dia raja judi togel di wilayah simbah. Dia cerita upeti tiap bulannya untuk beking security nya saja sampai 2 juta ripis. Tahun ini isteri sang raja judi ini berencana naik haji. Hayyah... perhatikanlah, apakah kemiskinan yang mendorong mereka berbuat itu? Apakah kemiskinan juga yang mendorong pihak security ikut ngalap berkah hasil judi togel para bangsat ini di jalanan?

Kasus di NTB misalnya. Betul yang jadi pembunuh adalah para preman. Tapi bukankah aktor intelektualnya justru jajaran orang-orang berduit yang memang diakui sebagai kaum intelektual?

Kasus-kasus penggusuran, yang nggusur dan ngusir adalah kaum kongkonmlarat, namun pelaksananya adalah aparat Trantib berpenghasilan UMR. Jika harus kotor namanya, cukup aparat Trantibnya saja yang belepotan. Oknum kongkonmlaratnya tahu bersih aja.

Meskipun ada tindakan kejahatan dari kaum miskin, maka itu kebanyakan merupakan buah kedholiman kaum kaya yang tidak mau berbagi dengan mereka. Bahkan  kejahatan yang dilakukan oleh kaum pakir ini, merupakan kepanjangan tangan kebejatan kaum kaya dan intelek yang memanfaatkan kemiskinan mereka.

Tadinya simbah mau mem"bangsat"kan preman yang bikin rusuh di kampus IKIP NTB. Tapi rupanya ada yang lebih 'bangsat' dari mereka. Dan justru itu dari kaum intelektual yang tebal duitnya.

Konon katanya kebodohan harus diberantas. Kemiskinan harus dibasmi. Ha kok kejahatan dan kekapiran lebih banyak datang dari kaum sugeh mblegedhu dan pinter-pinter ya... Nodong, ngrampok, njambret dan njarah, meskipun bareng-bareng, nilainya kalah jauh dengan sekali korupsi yang dilakukan Dirut Pertamina. Memang wong-wong sugeh kuwi njaluk dirut nyang cagak tenan kok... wong-wong sugeh sing "mbangsat".... Yang dermawan, ditunggu-ditunggu, moga-moga tidak seperti 'cebol nggayuh lintang.'

Thursday, August 24, 2006

MATI ALA RUWET

Belum cukup hidup dalam keruwetan, manusia lebih suka memilih mati dengan ruwet pula. Ini dilakukan oleh hampir semua suku dan adat di dunia. Kematian yang selayaknya ringkes dan sederhana, menjadi ruwet dan penuh pernik-pernik gak penting.

Setelah mati sebenarnya jenazah tinggal dirawat untuk dikubur saja. Namun embel-embelnya banyak sekali. Dari sabang (yang konon tradisinya Islam) sampai merauke (dengan tradisi pedalamannya) semua tak luput dari hal-hal tersebut.

Di dalam tradisi yang berbau Islam pun masih banyak sinkretisme yang merasuk di dalam upacara pemakamannya. Padahal Islam adalah ajaran yang palingringkes di dalam hal upacara penguburan ini. Sebagai contoh simbah cantumkan di bawah ini :

  1. Jenazah gak segera dikuburkan sebelum semua anggota keluarga melihat untuk terakhir kalinya. Ini syarat yang ruwet. Kadang karena harus memenuhi syarat ini, jenazah harus nginep bermalam-malam untuk menunggu anaknya yang ragil yang masih diperjalanan menembus hutan di pedalaman Kaltim sana.
  2. Sebelum jenazah dikuburkan, semua anggota keluarga njalani upacara "brobosan". Yakni mbrobos, merangkak di bawah peti jenazah. Konon biar gak inget terus sama yang mati.
  3. Penggali kubur harus slametan dulu, biar galiannya lancar, tidak rembes air.
  4. Setelah dikubur, masih banyak ritual yang harus dijalani. Macem 3 harian, 7 harian, 40 harian, 100, lalu mendhak satu dua, tiga...sampai nyewu hari.
Kadang hal-hal ini terkait dengan satu agama, tapi banyak yang rancu. Sudah banyak unsur sinkretisnya. Campuran keyakinan Hindu, Budha, Islam, Kong Hu cu,...yah jadinya keyakinan gado-gado. Akhirnya dinamailah 'kebudayaan' atau 'tradisi'.



Ini belum kalo pas musim mendekati bulan puasa maupun syawalan. Kuburan yang biasa sepi, jadi serasa pasar kaget. Tukang doa pun panen. Mau doa yang makbul... ada taripnya. Mau doa yang sederhana, boleh juga. Murah.... gak ditanggung makbul. Makin mahal, makin panjang doanya. Peziarah yang naik mobil mewah dijamin dapet doa yang panjang-panjang.

Yang ngalap berkah disini tidak hanya tukang doa. Penjual kembang atau bunga pun dapet rejeki kagetan ini. Bunga menjadi komoditi laris acara ziarah kubur ini. Gak tahu dari agama mana yang mengajarkan ini semua, yang jelas ini menambah ruwet prosesi kematian yang memang seharusnya sederhana.

Kasian yang hidupnya miskin. Mungkin keluarganya gak layak masuk surga menurut mereka. Lha gimana? Mbayar tukang doa gak mampu. Beli kembang gak gableg duit. Malah ada yang keluarganya gak diacarakan 3 harian, 7 harian dst, diomongin sama tetangga kiri kanannya, "ngubur orang kayak nanem bangke kucing saja." Maksudnya gak ada upacara apa-apa setelah itu.

Kalo dituruti tradisi ini, memang yang berhak masuk surga cuma orang-orang kaya saja. Lha dari sejak ngubur sampai "nyewu" itu kalo dikalkulasi biayanya bisa sampai ratusan juta bahkan milyaran. Ngundang ustadz2 dan kyiai2. Ngamplopi para tamu undangan. Sak amplop isinya variatip. Kisaran sepuluh rebuwan sampe gambar sukarno-hatta. Lha wong mlarat ngempet khan gak akan mampu menggelar tuntutan tradisi semacam itu. Ya sudah, di'bangkai-kucing'kan sama tetangga ya harus pasrah.

Belum lagi ini ditambah biaya pemakaman atau penguburan yang makin ngudubilah setan. Gak percaya? Coba baca di sini atau bisa juga baca di sini . Mumet dan ruwet memang urusan wong mati ini. Ruwet yang dibikin sendiri oleh pelakunya.


Wednesday, August 16, 2006

HIDUP ALA RUWET

Sebagai 'wong jowo', simbah merasakan betul betapa  yang namanya adat terkadang mbikin hidup tambah ruwet. Mungkin tadinya bermaksud baik, namun seiring bergesernya waktu, adat yang tadinya terlihat adiluhung, malah terasa menyesakkan hidup. Apalagi kalo diembel-embeli keyakinan.

Simbah gak begitu tahu banyak adat-adat apa yang harus dilalui seumur hidup manusia. Namun yang sedikit simbah ketahui saja sudah cukup merepotkan manusia. Di sini simbah kutipkan sedikit.

FASE KEHAMILAN

Fase ini harus dilalui dengan banyak berpantang. Wong jowo nyebut "ra ilok", wong sunda bilang "pamali" atau pantangan yang gak pantes dilakukan. Misalnya :
  • pas hamil kalo ngidam harus dituruti, biar anaknya gak ngileran atau ngecesan
  • kenthut jangan kenceng2, biar anaknya gak dobolen
  • makan jangan glegeken (sendawa), biar anaknya gak buncit perutnya
  • kalo lihat orang cacat harus bilang "amit-amit jabang bayi", biar anaknya tidak lahir cacat
  • gak boleh makan ikan mujahir, biar anaknya nggak ndoweh wal ndawir ataupun mencos
  • gak boleh nyembelih binatang, takut anaknya lahir kehilangan organ tubuh..... dlsb


Ada juga upacara mitoni. Jangan sangka ini upacara nyembelih ular piton... bukan. Ini upacara menyambut usia kehamilan bulan ke tujuh.

FASE KELAHIRAN SAMPAI PERNIKAHAN

Begitu lahir ceprot, ada upacara nanam ari-ari. Bayi laki ari2nya ditanam di samping kanan rumah, bayi perempuan di samping kiri rumah. Sambil dipasangi lampu teplok.
Lima hari kemudian "sepasaran bayi". Lalu tiap selapan (35 hari) dibancaki. Bancakan weton namanya. Dulu menunya nasi urap (gudhangan) plus telor dibagi enambelas. Jan nyamleng tenan. Ini masih ditambahi tiap tahun diulang-tahuni. Ritual yang melelahkan.

Kadang yang gak punya duit direwangi ngutang ngalor ngidul. Mbayarnya ngetan ngulon... Sampe ada yang kado ulang tahunnya sebuah Tower.... weh, sugeh mblegedhu. Jebul bapaknya korupsi. Nah saat bisa jalan pun ada upacara "Tedhak Sinten", yakni syukuran si anak bisa napak jalan. Mungkin orangtuanya khawatir, anaknya jalan gak ngambah lemah, kayak kuntilanak saja.

Nah begitu puber, mulailah ritual dewasa. Yang pertama latihan bermuka dua dengan pacaran. Muka dua? Lha iya... jika didepan pacar, semua diperlihatkan yang manis-manis dan bagus2. Meludah yang sopan, wahing diempet, angop ditutupi, kenthut dikempit... wah teori John Robert Power dijalani semuah. Begitu di rumah ida-idu hoak-hoek, wahing gebras-gebres, angop ngowoh, ngenthut brat-brot sak ampase. Konangan setelah jadi suami isteri.

Trus mulailah ritual lamaran, tukar cincin dengan sederet upacaranya. Nah memasuki pernikahan, adat yang harus dilaksanakan sak tumpuk. Apalagi orangjawa paling seneng dengan yang namanya "pepindhan' alias perlambang.
Maka dipasangilah saat upacara pernikahan pohon tebu. Maksudnya biar manteb di kalbu. Ada juga Cengkir, agar kenceng anggone mikir. Trus ada upacara sawat-sawatan (saling melempar) daun sirih sambil ketawa-ketawi. Padahal boleh jadi setahun kemudian itu daun sirih diganti batako, sambil saling pisuh-pisuhan suami isteri. Lalu tidak lupa ritual nginjek telur.

Di belakang upacara itu, sang pawang hujan sibuk komat-kamit nolak hujan biar tamunya banyak yang datang. Salah satu cara nolak hujan yang konon katanya manjur adalah dengan melempar celana dalam sang penganten perempuan ke atas genting rumah. Weleh... Belum lagi di dapur mbah dukun sibuk nyajeni pawon (tungku api), kalo sekarang kompor. Katanya biar panas apinya. Kalo kurang sajen dan apinya gak panas, masakannya lama matengnya. Keburu tamunya gumruduk pada ngumpul kleleran belum disuguh. Hayyah... api kok kurang panas... mbok dinyunyukne bathuke mbah dukune ben kroso.

Semua dijalani dengan penuh keruwetan. Lebih terasa ruwet saat dijalani oleh orang dengan aktifitas penuh kesibukan seperti sekarang.

Simbah bukan orang yang anti dengan adat istiadat. Namun adat yang berbau klenik dan tidak mendidik hendaknya dieliminir saja. Adat yang bagus dan mengandung norma yang membangun harus dilestarikan. Apalagi adat yang membuat hidup mudah... itulah yang dimangsud ..."yuriidullohu bikumul yusro, walaa yuriidu bikumul 'usro.." (Allah menghendaki kemudahan buat kalian, dan tidak menghendaki kesukaran atas kalian).

Besok kita bahas matinya....ala ruwet...

Sunday, August 13, 2006

SALAH KUPING

Salah satu lagu wajib yang dahulu sering diperdengarkan di televisi adalah "Garuda Pancasila". Cuma lucunya waktu kecil dulu simbah suka salah melafalkan syairnya... perasaan begini deh syair lagunya (ini menurut kuping simbah waktu mingsih anak-anak) :



Garuda Pancasila
aku ra pendu kemu
patria proklamasi
sedia berkorban untukmu
pancasila dasar negara
rakyat adil makmur santosa
pribang-pribang satu
ayo maju maju, ayo maju maju, ayo maju maju....

Tapi ya waktu itu PD abis nyanyiinnya (PD = Penting nDableg). Malah sampai urat leher ini mau putus saking ngototnya. Mbareng sekarang ndenger lagu itu dengan benar, simbah jadi ngguya-ngguyu dewe...Jebul dulu itu salah

Guru ngaji simbah pun pernah mengalami hal yang sama dalam mendengar kalimat wiridan. Beliau sempat terheran-heran karena pernah mendengar (waktu kecilnya) orang sedang dzikir bareng-bareng dengan melafalkan ..."Sastro Jenggot Aladin....Sastro Jenggot Aladin..." Kalimat itu diulang-ulang bareng-bareng di masjid. Kuwi gek sopo sing diceluki bola-bali... opo mbah sastro..?



Setelah beranjak dewasa, beliau dengar lagi itu wiridan, ternyata yang tadinya didengar sebagai "Sastro jenggot Aladin" itu rupanya kalimat istighfar "Astaghfirulloh haladzim...astaghfirulloh haladzim".... yah namanya juga kuping anak kecil....

Simbah jadi menghubungkan dengan kita2 yang sudah tuwek-tuwek ini. Kalo kuping saja bisa salah persepsi dan penerimaan, dan baru disadari saat beranjak dewasa, maka hal ini bisa juga berlaku bagi cara berpikir, cara melihat, cara memandang dan bahkan juga konsep berpikir kita.

Mungkin saat ini dengan segala keterbatasan yang ada, kita memiliki suatu keyakinan, pendapat dan pandangan hidup yang kita yakini dengan kuat. Kita PD mebela dan mengungkapkannya di hadapan khalayak ramai. Namun boleh jadi suatu ketika, kita bisa saja menyadari, bahwa apa yang menjadi pandangan hidup, cara berpikir dan keyakinan kita itu ternyata salah dan pantas ditertawakan.

Kita lihat pro kontra UU Sisdiknas, pro kontra UU APP, pro kontra lokalisasi perjudian dlsb. Semua ngotot dgn argumen masing-masing. Semua berdalih dan berdalil. HAnya saja nantinya semua akan terungkap dengan nyata dan haq. Mana benar, mana salah, mana pihak yang pantas tertawa dan mana pihak yang pantas ditertawakan. Kalo tidak di dunia ya di akherot. Tunggu saja......!


Saturday, August 12, 2006

PRODUSEN KOTORAN

Berhubung ngoprek-oprek orang sakit, simbah tak jarang harus bersinggungan dengan yang namanya barang-barang menjijikan produk manungso.

Suatu saat simbah harus mbuang yang namanya cerumen atau biasa juga disebut cureg, atau kotoran kuping. Kalo cuma sak uprit sih gak nggilani... tapi kalo gedhenya sak jempol, pasiennya saja mau muntah ngliatnya...

Yang paling sering kontak dengan barang ginian adalah staf laboratorium klinik. Mereka harus berurusan dengan barang berlendir macem dahak, ingus, uyuh binti urine, tinja, kerokan kulit, cairan nanah, sperma, darah, dan cairan menjijikan lainnya.

Di sini simbah sering merenung, coba dipikir... ha kok hasil produk alat-alat tubuh manusia ini semuanya njijiki... Dimulai dari kepala, sampai ujung kaki.

Kepala, ada ketombe, katimumul, keringet, kokot bolot.
Telinga, cerumen, cureg atau kotoran kuping.
Hidung, ada upil, ingus binti umbel.
Mata, ada belek.
Kulit, keluar minyak dan keringet yang sudah pasti rasa jeruk pecel.
Mulut, ludah wal iler, dahak, plak gigi...
Udel, ada bolot dan minyak yang baunya silaken cium sendiri..
Kemaluan, ada uyuh, lendir, sperma,..
Dubur, pusat bau, ada tinja dari yang keras akas, sampai yang encer luber....

Intinya, setiap lobang yang dimiliki manusia, semuanya memproduksi limbah yang pemiliknya sendiri bisa mabok dibuatnya jika mencium dan merasakan aromanya.

Bandingkan dengan lebah dengan produk madunya. Sapi dengan produk susunya. Walet dengan air liurnya yang mahal. Unggas dengan telurnya. Disamping tentunya kalo unggas dan binatang ternak masih bisa dimakan dagingnya. Bahkan bisa juga dimanfaatkan kotorannya untuk pupuk kandang.



Kotoran manusia gak mungkin ada yang mau makai buat pupuk...Simbah punya tetangga nanam jambu di atas tanah yang tadinya septic tank jumbleng... jambunya gedhe2 dan ranum2. Tapi gak ada yang mau makan. Orang menamainya JAMBU TAIMOKO. Moko adalah oknum pemilik WC yang septic tanknya akhirnya ditanami pohon jambu itu.

Susu manusia pun gak laku dijual kayak susu sapi. (tentu saja kita gak akan membahas industri pornografi yang di industri ini, organ yang satu ini laku keras dijajakan). Daging manusia apalagi. Nah apa yang membuat manusia lebih unggul dari kewan...??

Satu-satunya kelebihan manusia adalah pada amal perbuatannya. Kalo manusia biayakan, pecicilan, pating jengkang ra karuan... maka derajatnya lebih rendah daripada sapi, lebah, walet maupun ayam pelung.....



(Waduh perut mulai mules nih... simbah jadi inget lagu terkenal yang sudah diganti syairnya :
ayo ngising                     ayo ngising
neng Kebon                    neng Kebon
tutupi godhong pring     tutupi godhong pring
ben garing                       ben garing

Dinyanyikan seperti lagu "Abang Yakob".....heeh..)

Wednesday, August 09, 2006

MENGAPA KEDHOLIMAN BISA TERJADI?

Kemarin malem simbah kedatangan sahabat karib sekaligus teman bisnis. Sohib simbah ini datang dengan suatu cerita yang bagus untuk diambil pelajarannya.

Seminggu lalu sohib simbah ini mendapat tawaran proyek ngecat tangki milik perusahaan container berjumlah tak kurang dari 140 tangki. Nilai kontraknya sebesar 400 USD tiap tangki. Jadi nilai total kontraknya sebesar 56.000 USD. Masya Allah.. syeeet dah. Duit kabeh kuwi...

Namun sewaktu ngobrol sama simbah, sohib ini menyatakan keraguannya untuk mengiyakan tawaran proyek tersebut. Kebetulan yang nawari proyek itu kakak kandungnya sendiri. Simbah nanya, apa yang menyebabkan ragu-ragu. Mulailah sohib simbah ini bercerita.

Nilai kontrak yang besarnya 400 USD tiap tangki itu ternyata nantinya ada potongan2 yang pada akhirnya dia hanya akan menerima 250 USD tiap tangkinya. Yang menyebabkan sohib simbah ini ragu bukan potongannya. Karena setelah diitung-itung dengan 250 USD pun dia masih bisa untung 500 ribu perak sampe sejuta per tangkinya. Namun keraguan sohib simbah ini lebih tertuju pada halal tidaknya si pemotong duitnya itu untuk memakan hasil potongannya. Karena seperti sudah banyak diketahui, praktek semacam ini tidak sedikit berjalan di republik ini.

Simbah akhirnya ngasih masukan. Tentu saja uang yang mereka makan itu tidak halal. Karena itu adalah bentuk kedholiman mereka kepada diri kita. Sohib simbah ini nanya lagi, apakah dengan demikian dia terlibat dengan kedholiman mereka? Simbah diam sejenak, lalu kasih jawaban dengan mengambil kutipan ucapan Imam Ali.

Imam Ali pernah berkata, bahwa yang namanya kedholiman itu bisa terjadi dikarenakan adanya kerjasama antara yang mendholimi dan yang didholimi. Maksudnya apa? Jika kita tidak mau didholimi dan mampu melawan kedholiman tersebut, maka kedholiman tidak akan terjadi. Atau setidaknya jika kita tidak mampu melawan kedholiman tersebut namun mampu untuk menghindar, maka kedholiman juga tidak akan terjadi.

maka simbah menyarankan 2 opsi. Pertama :Ambil proyek tersebut dengan tetap ngotot nilai kontraknya sesuai perjanjian, tidak ada potongan. Perjuangkan hak kita, sampaijika mereka gak suka kita biarlah mereka yang mengusir kita. Atau opsi kedua : kita menghindar dari tawaran proyek tersebut. menghindari segala kedholiman yang mungkin dan akan terjadi. Dengan demikian kita tidak ikut andil dalam masuknya barang haram ke perut munyuk bermuka manusia itu.

Sohib simbah ini memilih opsi kedua. Malam itu juga dia batalkan tawaran kontrak senilai 56.000 USD dengan pertimbangan matang. Katanya, dia tidak ingin tidurnya dibayang-bayangi rasa bersalah menandatangani nilai kontrak yang sebenarnya tidak ada realitasnya di lapangan.

Malamnya simbah mikir terus.... paginya mencret mangsur2... gara-gara kena kipas angin semalaman. Alhamdulillah diet gratis. (Simbah sengaja gak obati biar agak susut dulu simbah punya bobot. Simbah hantam pakai nasi Padang pedes biar tambah mangsur... ha kok sorenya mampet. Padahal sama boeng Koeaing disuruh minum Norit... wooo sala receipt koweorang boeng, ini receipt mandjoer ala mbahmoe...)

Tuesday, August 08, 2006

MBAH JENGGOT

Kita semua tahu bahwa Osama bin Laden, Fidel Castro, Dave Navarro, Lao Tze, Darwin dan bahkan vokalis Limp Bizzkit adalah manusia berjenggot. Orang gak pernah ribut dengan jenggot mereka. Kita juga tahu bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang yang berjenggot, bahkan jenggotnya memenuhi dadanya. Dan beliau adalah seorang yang tidak suka jenggot itu dicukur atau dipotong, kecuali setelah lebih dari satu genggam tangan.



Namun simbah mendapat cerita yang menarik dari teman sejawat simbah yang sudah lumayan tua waktu jadi co-ass (dokter muda) di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Dia adalah seorang yang jenggotnya lumayan runggut bin gondrong. Waktu peledakan WTC dulu dia suka dipanggil sebagai Osama bin Laden oleh dokter2 senior.

Nah sewaktu tugas di RSPAD Gatot Subroto itu, suasananya lumayan kental dengan aroma militer. Sehingga kerapian dan kebersihan amat diperhatikan oleh dokter2 senior. Tak kecuali juga sang co-ass berjenggot kita ini.

Pada suatu waktu, mungkin karena merasa risih melihat berkibar-kibarnya jenggot sang co-ass, sang dokter senior mulai mengusik keberadaan jenggot tersebut.

"Mbok ya dicukur tho le, jenggotmu..," tegur sang dokter senior. "Biar rapi gitu lho, nggak keliatan kayak penjahat...!"

"Maap dok, lha kalo jenggoten apa keliatan gak rapi?" tanya co-ass kita ini dengan beraninya.

"Haiyo gitu... coba kamu lihat itu para prajurit tangguh TNI itu, kan klimis-klimis rapi, ganteng, dan tampak wibawa. Mbok melek tho lee..." sang senior mulai mbalas dengan agak melecehkan.

"Ooo.. jadi kalo jenggoten itu keliatan kumuh, gak wibawa, dan gak rapi gitu ya dok..??" tanya sang co-ass sambil memancing reaksi.

"Jelas lah. Itu gak usah saya jlentrehne lagi... makanya besok cukur ya...!" jawab sang dokter senior.

"Tapi dok, coba lihat foto di atas ruangan ini!" jawab mas co-ass gak mau segera ngalah, sambil nunjuk fotonya Pahlawan Pendiri ABRI, Jendral gatot Subroto. "Ha wong sang pendiri ABRI saja jenggoten kok dok-dok... apakah  pak pahlawan yang digantung potonya itu kumuh, gak wibawa dan gak rapi..? "



Mak prepet... lanjutan kisahnya simbah gak dikasih tahu oleh mas co-ass jenggoten itu. Namun yang pasti sejak hari itu gak ada lagi yang nyinggung-nyinggung lagi jenggotnya yang semakin berkibar itu.

Simbah jadi teringet lagu pak jenggot yang termashyur sewaktu simbah masih kecil. Gak tahu siapa yang ngarang, tapi kok keliatannya orang2 komunis, terlihat dari isi syairnya :

Pak jenggot-pak jenggot nduwe anak nak
Anake mung siji nangis wae
Amargo wedhi karo jenggote
Wis menego mengko sore tak cukure

Yang jelas jenggoten itu nyunah......... simbah pun berjenggot. Kata salah satu temen sejawat dokter yang diejek jenggotnya, dia berkata... :

Pancen yen gur jenggoten thok koyo wedhus
Yen gur kumisen thok koyo tikus
Yen ra jenggoten lan ora kumisen koyo bulus
Yen jenggoten plus kumisen... lha kuwi wong bagus...

Saturday, August 05, 2006

FORBIDEN PARTY

Saat simbah masih bujangan, bagi yang memiliki tanaman buah di rumahnya, hampir semuanya pernah mengalami yang namanya kecurian. Bahkan sampe saat ini. Dari buah mangga, jambu, belimbing ataupun buah lainnya. Bahkan blimbing wuluh yang terkenal kecut (ngungkuli kecutnya ketek  orang  yang belum mandi satu musim), tetep saja nekat dicuri.

Saat itu yang namanya anak-anak muda kalo kumpul-kumpul malem, selain sekedar kongkow, biasanya ada saja usul iseng untuk mengembat buah-buahan dari pohon tetangga yang sudah ranum. Jam sergapnya mulai di atas jam 21.00 malam. Targetnya adalah pohon buah-buahan yang sudah dirasa layak santap. Biasanya siang harinya disurvey dulu, malamnya digasak.

Nah, saat itu telik sandi dari gerombolan fruitarian colongan ini melaporkan adanya satu pohon jambu air yang sudah merah-merah menantang. Hebatnya lagi buahnya berdompol-dompol, nggrombol utuh dibiarkan saja oleh pemiliknya. Mungkin si pemilik sudah bosen makan jambu, pikir gerombolan itu.



Maka malamnya dibentuklah team suksesi. Satu team mbikin sambel rujak di rumah, satu team lagi dibentuk buat nggasak jambu airnya. setelah terkumpul jambunya, dirujak bareng-bareng.

Singkat cerita, simbah malam itu menolak ikut. Ha wong mangan barang colongan, harom..... Maka berangkatlah team penggasaknya tanpa keikutsertaan simbah. Mereka naik dengan sukses ke pohon jambu air tersebut. Sesampai di atas, tas kresek yang sudah disiapkan mulai diisi, sambil terus waspada tengok sana-tengok sini. Setelah penuh, mereka tidak segera turun. Namun malah mencicipi jambu tersebut di atas pohon...

Lhadalah... ha kok kata mereka jambunya muaanis buangeet... mak nyus di lidah. Satu gak cukup, ya imbuh. Entah jambu air jenis apa itu, yang jelas manisnya luar biasa. Akhirnya team penggasak tersebut baru turun setelah perut mereka sudah tidak muat lagi untuk makan jambu lagi.

Malam itu jambu air hasil curian yang mereka dapat, diserahkan ke team pembuat sambel rujak. Sambil ngakak-ngakak mereka menceritakan aksi mereka dengan bangga. Namun tiba-tiba tawa mereka berubah menjadi senyum kecut. Apa pasal?

Sewaktu team sambel rujak mulai membelah jambu-jambu itu satu persatu, ternyata hampir tak ada satupun jambu-jambu tersebut yang utuh. Semuanya belatungan, pating tloler, klugat-kluget.... nggilanik...!!  Nyooohh kowe.... matreng pora kowe... hahahahaaa..

Berarti yang mereka makan sak kayange di atas pohon tadi pasti belatungan semua itu. Pantesan buahnya gak disenggol sedikitpun sama yang empunya jambu. Rupanya jambu bosok kabeh.... Haaha... jadi rupanya rasa manis yang luar biasa tadi berasal dari citarasa belatung itu mungkin. Kontan saja team penggasak itu muntah-muntah, mukok sak kayange...

Mangkanya tho le, ndhuk... gak usah nggragas, cluthak, ngongso.... barang haram diemplok juga... nyari yang halal saja. Memang sih manis... tapi manisnya barang haram apa sepadan dengan resikonya....??

Thursday, August 03, 2006

SUMBER REJEKI

Beberapa hari ini simbah kalo malam disibukkan dengan pekerjaan rutin yang mengesalkan, berburu nyamuk. Memang simbah rasakan sudah sekitar 4 hari ini serangan nyamuk sudah membabibuta, meskipun beberapa hari sebelumnya juga gak bisa dikatakan mencelengmelek. Akhirnya tidur malam selalu dihiasi dengan ceblek sana sini, plak sana plak sini, crot sana crot sini (darah nyamuknya).

Bermacam obat nyamuk sudah simbah coba, tapi tetep saja nyamuk tak terbendung. Disemprot sampae napas simbah ngik-ngok seseknya, gak mempan. Dibakari obat nyamuk gak manjur... Weleh ..akhirnya manual menggunakan ketajaman mata elang dan kecepatan copet pulogadung.

Tapi mungkin kita tidak mengira, bahwa dari nyamuk yang gak mitayani gitu itu dia bisa ngasih rejeki ke banyak orang. Jelas pabrik obat nyamuk bisa berproduksi. Karyawan pabriknya bisa ngasih makan keluarganya. Industri percetakan juga kecipratan order mbikin kemasan bungkusnya, termasuk desainer yang mbikin logonya. Rumah produksi iklan bisa terus bernapas dengan pesanan iklan obat nyamuknya. Sekaligus si artis pemeran iklannya bisa ngalap berkah dari nyamuk bin lemut bin jingklong bin mosquito ini. Jadi beberapa oknum di atas tadi rupanya bisa terkafer rejekinya dari eksistensi nyamuk. Coba bayangkan jika nyamuk punah, berapa pihak yang kehilangan salah satu sumber rejekinya?

Sumber rejeki yang paling potensial adalah tubuh manusia. Simbah tidak mengarahkan pada menjual diri, bukan itu. Tapi memang hanya dari tubuh manusia saja berputarlah roda ekonomi dunia.

Simbah ambil contoh salah satu bagian tubuh manusia yang menjadi sumber rejeki adalah kulit. Dari kulit ini, industri kosmetik bisa mengais rejekinya. Pabrik sabun tak ingin ketinggalan. Juga beberapa industri macem Spa, krim pengencang kulit, pemutih kulit, tukang tatoo, hingga dokter kulit pun dapet makan dari situ. Belum lagi bicara masalah penyakitnya, industri salep, krim, obat-obat yang memperindah kulit jelas mbaurekso disini.

Itu baru kulit, belum gigi kita. Dari dokter gigi, pabrik odol, sikat gigi, obat kumur, permen penyegar napas, spray pewangi mulut, benang gigi, tukang gigi/pangur, tukang kawat gigi (biar gak mrongos), sampai industri tusuk gigi, menjemput rejekinya disini. Kadang kita juga gak terpikir bahwa rambut kita pun ternyata memberi rejeki kepada banyak pihak, seperti tukang cukur, karyawan pabrik shampo, pabrik minyak rambut, pabrik wig, penumbuh rambut, cat rambut, pabrik gunting, hingga pabrik karet gelang (buat ngucir).

Lah, sebegitu banyak Gusti Sing Murbeng Dumadi ngasih sumber rejeki, kok ya ada yang masih bingung ngais rejeki. Ada yang bunuh diri karena merasa putus asa nyari rejeki. Ada yang mbunuh anaknya takut gak dapet rejeki. Ada yang bacok-bacokan antar sodara karena rebutan rejeki, ada yang menjual harga dirinya untuk secuil rejeki .... Duh Gusti paringono jaguar...

Buka mata kita... dimana-mana tempat semuanya bisa menjadi sumber rejeki.