Tuesday, July 25, 2006

SERTIFIKASI AKHLAK

Dua Wakil Rakyat Tolak Ikuti ESQ

PURWOKERTO-Dua anggota DPRD Banyumas, Hendro Kuncoro dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Sutarso dari Partai Amanat Nasional, menolak mengikuti latihan emotional spiritual quotien (ESQ). Latihan itu diselenggarakan DPRD bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Emosional dan Spiritual Cabang Purwokerto.
Kedua wakil rakyat itu tak mengikuti kegiatan tersebut, Sabtu-Minggu (11-12/6), karena menilai anggarannya terlalu besar, yakni sekitar Rp 1 juta. Anggota DPRD yang mengikuti pelatihan 38 orang.
Dicomot dari SUARA MERDEKA Senin, 13 Juni 2005

Memang susah memiliki karyawan, pegawai ataupun pejabat yang berakhlak baik. Segala cara ditempuh agar memiliki aparat, karyawan, pegawai maupun pejabat yang akhlaknya mantep, amanah gak suka ngibul dan nggambus.

Dahulu di jaman Mbah Harto, cara memperbaiki akhlak aparat maupun pejabat  -dalam hal ini yang muslim- adalah dengan menaikkan haji para aparat dan pejabatnya. Maka dikenallah istilah Haji Abu Bakar (Atas Budi Baik Golkar) maupun Haji Abidin (Atas Biaya Dinas). Sekarang malah berkembang menjadi Haji Abidat (Atas Biaya Duit Rakyat) dan Haji Dedikasi (Dengan Duit Makar dan Korupsi).

Tapi program penghajian ini tak efektif. Justru malah menghasilkan haji-haji yang korup dan bejat. Maka tidaklah heran, di tengah masyarakat yang tadinya mereka dipanggil pak Haji berubah menjadi julukan hajingan, hajinguk maupun hajindul. Ini semata-mata dikarenakan ibadah haji tidak menyebabkan mereka tambah baik akhlaknya di tengah masyarakat. Malah banyak yang sudah haji tapi suka nongkrong dan mabok. Ada lagi haji yang gemar main judi dan bahkan jadi bandar togel. Simbah pernah ditawari seorang haji untuk membeli tanah murah di daerah Karawang. Ha kok simbah dientertain mau dianter ke daerah Ancol tempat dia kumpul sama PSK langganannya. Katanya PSK daerah situ semlohay dan mantab-mantab serpisnya.... lhadalah. Lha kalo yang nawari germo gitu simbah maklum, lha ini yang nawari kok pak haji.... weeee.. hajindul tenan wong iki.

Di era repormasi, haji tidak lagi digunakan sebagae tolok ukur baik tidaknya akhlak seseorang, bahkan sudah mencapai antiklimaksnya. Maka dibuatlah suatu metode yang diembat dari temuannya wong londo yang dikaitkan dengan masalah spiritual. Dulu ada IQ (Intelligent Quotient), lalu ada EQ (Emotional Quotient) terakhir adalagi yang namanya SQ (Spiritual Quotient). Di Indonesia digabung menjadi ESQ. Diharapkan jika lulus ujian ESQ (dengan mengikuti programnya dan mengisi semacam quesioner macem test IQ) maka peserta-pesertanya bisa menjadi manusia spiritual yang amanah dan bertanggung jawab.

Hanya saja meskipun lebih murah dari haji, metode ini tetep saja meragukan. Ha mosok cuma dengan ngikutin program trus ngisi kuesioner tiba-tiba orang bisa berubah akhlaknya? Jangan-jangan suatu ketika ESQ ini hanya sekadar sarana nyari duit bagi penyelenggaranya.. dan bagi pesertanya, sertifikat ESQ ini nanti cuma dijadikan topeng kedua setelah haji untuk menutupi wajahnya dari kebejadan yang mendarahdaging di tubuhnya... Ujung-ujungnya kita hanya bisa bilang... yah namanya juga usaha mbah....

Memang akhlak tidak bisa diubah seperti membalik telapak tangan. Banyak lulusan pesantren yang mbegajul, haji yang hajingan, pastor yang menghamili biarawatinya, biksu yang gemar masturbasi, atau pendeta yang makan harta gereja... Akhlak harus disiapkan sejak dini, tidak ada yang instan.

Menghasilkan manusia yang bertaqwa dan berkwalitas ibarat seperti menanam tanaman. Yang dilakukan pertama kali adalah memilih lahan yang subur dan baik. Lalu benih yang baik... setelah itu dipupuk, diberi antihama, dijaga dst...dst... Nah milih lahan yang baik itu adalah ketika memilih calon isteri yang nantinya akan kita buahi. Cari wanita yang baik, yang menjaga rahimnya dengan terhormat. Kalo nyarinya malah wanita yang lahannya sudah dipaculi bola-bali... yah yo wis kono lah... Orang fasik jaman sekarang bilang keperawanan gak penting.

Bibit yang baik adalah ibarat bibit dari sang laki. Jadi harus sperma  laki-laki yang taat sama Yang Mbikin Sperma. Sehingga setelah itu kalo sudah tumbuh bibitnya, tinggal ngrawat dan menjaga bibit tersebut tumbuh dengan baik.

Pada suatu malam Umar bin Khattab mendengarkan seorang ibu penjual susu ngobrol dengan anaknya. Si ibu nyuruh anak perempuannya nyampur susu dagangannya dengan air. Si anak perempuan itu menolak karena takut kepada Allah. Umar gak pikir panjang... inilah lahan yang baik buat bibit anak laki-lakinya. Dan setelah itu anak perempuan itu dipek mantu... Hasilnya... Umar bin Abdul Aziz -seorang khalifah yang terkenal adil dan pembawa berkah bagi umat manusia- lahir dari jalur rahim perempuan anak penjual susu tersebut.

12 Comments:

At 10:09 PM, Anonymous the Kalong's nanggepi...

Hah?? akhlak di sertifikasi????
Kayak sertifikasi halal aja.
tempelin tuh di jidad tulisan "LULUS SERTIFIKASI AKHLAK" bwt yang ngikutin.
ono-ono wae...

 
At 12:09 AM, Anonymous Kang Kombor nanggepi...

Jadi yang dua nggak ikut ESQ itu seperti anak tukang susu atau bukan, Mbah?

 
At 12:58 AM, Anonymous Mbah Dipo nanggepi...

#kang kombor
wah.. Di DPRD gak ada tukang susu kang, tukang peras ada... tapi bukan susu.. jadi simbah gak bisa jawab itu...:D (jawabane ngalor ngulon)

 
At 1:01 AM, Blogger Andy nanggepi...

anak tukang susu kiye opo to mBah ?

 
At 3:01 AM, Blogger pippip nanggepi...

berarti kaji2 sing
korupsi iku
warisanne jaman
pak harto yo mbah yo?

wah wah...

mungkin anggota
dprd sing gak gelem
melu iku gak ngerti
artine esq mbah?

sing bener esq opo esti
mbah?

 
At 3:26 AM, Anonymous the Kalong's nanggepi...

nyambung nih...

nek munggah kaji, dibayari negoro ki hukume kepriben mbah?
padahal nek di delok seko ibadah, kajine termasuk mabrur *wallahu'alam*

 
At 8:28 AM, Anonymous ario dipoyono nanggepi...

Wah... akhlak koq ada sertifikasi ya, bisa jadi beberapa tahun mendatang ada Diploma Keahlakan dengan Title Amd, Ahl

 
At 11:26 PM, Anonymous aribowo nanggepi...

kalo punya sertifikat itu bisa di terima kerja dmn aja, pasti banyak tuh yang mau ikutan program itu, saya juga mau

 
At 12:56 AM, Anonymous Mbah Dipo nanggepi...

# kang kalong's
munggah kaji iku wajib kanggone sing mampu kang, yen ra mampu ojo mangan duit rakyat. yen pingin nganggo duit rakyat, takok disik nyang 200 juta penduduk endonesa... oleh pora, yen oleh ndang mangkato... agi takok neng Bantul ngono wae lak ditolak... heheh

yen nekat jenenge haji mabuur...

 
At 4:29 AM, Anonymous aribowo nanggepi...

trus gimana mbah, jdi beli tanah nya

 
At 4:36 AM, Anonymous Mbah Dipo nanggepi...

# aribowo

simbah gak jadi beli tanahnya. Memang murah sih, semeter cuma Rp 3000,-. Lha simbah tertarik ngliat. Ha kok ternyata tanahnya di tengah-tengah sawah sama tambak bandeng, dari pingir sawah nyebrang pematang 1 km. Wehh.. cocok buat bikin njaratan iki...

 
At 6:26 AM, Blogger onanymous nanggepi...

esq apa maning kuwe Mbah? mengko malah tambah salah jurusan lho! *parto mode ON
secara DPR/DPRD adalah wakil rakyat, secara de facto mereka merasa berhak mewakili rakyat, untuk hidup bahagia, kaya raya, aman dan "damai" serta bersertifikat esq...jadi sebagai rakyat apa masih perlu kita hidup bahagia, kaya raya, aman dan damai + sertifikat esq?. lah wong sudah diwakili, masa kita gak percaya ama wakil rakyat..xixixi...

 

Post a Comment

<< Home