Wednesday, July 19, 2006

ANALISA BENCANA

Menurut sohib Simbah pandangan orang terhadap alam di sekitarnya itu ada dua macem. Yang dimaksud alam disini adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik benda mati ataupun benda hidup.

Pertama, mereka beranggapan bahwa alam bersikap netral terhadap manusia. Sehingga manusia mau njengking, mau mekangkang, atau mau njingkrung alam gak terpengaruh. Mau ngibadah atau mau mbromocorah alam gak berubah.

Golongan ini melihat bahwa bencana yang terjadi adalah suatu proses alam yang memang alami.  Banjir, gempa bumi, kebakaran, dan ontran-ontran lingkungan sekitar manusia itu terjadi karena memang begitulah sweharusnya. Alami saja. Gempa khan karena ada patahan bumi yang bergeser. Gunung meletus khan hanya peristiwa vulkanik biasa. Banjir... ini hanya problem manajemen aliran air. Kebakaran... kelalaian biasa yang bisa terjadi pada siapa saja. Tsunami... aaah itu kan hanya efek normal dari gerakan dasar laut yang membentuk gelombang secara longitudinal maupun transversal... (yang terakhir ini simbah rodo mumet dan ra mudheng).

Sehingga cerita-cerita kaum terdahulu yang terkena bencana hanya dianggap peristiwa alam biasa. Banjir Nabi Nuh, dianggap sebagai model tsunami purba, biasa lah. Kebinasaan kaum Nabi Luth, dianggap sebagai korban tanah longsor biasa. Nabi Musa nyebrang Laut Merah, dianggap wajar-wajar saja... "..kan nyebrangnya saat surut.." begitu kata mereka. Kehancuran penduduk Pompei dianggap sebagai korban gunung meletus yang bisa mengenai siapa saja.

Jadi semua yang terjadi ini merupakan peristiwa alam, yang tidak terkait dengan moral dan perilaku manusia.

Kedua, adalah mereka yang berpendapat bahwa lingkungan itu tidak netral kepada manusia. Lingkungan akan memberi respon balik tergantung moral, amalan atau perilaku masing-masing manusia.

Maka semua bencana, musibah, ataupun peristiwa lingkungan dan alam yang terjadi terkait dengan apa yang dikerjakan manusia. Golongan ini meyakini bahwa banjir yang terjadi pastilah ada dari kelakuan dan pecicilannya manusia terlibat disitu. Gempa, meskipun peristiwa tektonik ataupun vulkanik, tidak akan terjadi kalo manusianya tidak mbalelo dan banyak maksiyat. Gunung tidak meletus kalo manusia yang ada di sekitar gunung sujud dan taat pada yang Mbikin Gunung.

Maka banjir Nabi Nuh adalah kemarahan Allah yang melibatkan air -entah tsunami atau air bah- untuk menghukum manusia yang maksiyat. Kehancuran umat Nabi Luth adalah bentuk murka Allah pada kaum homoseks (homok maupun lesbi) dan tukang sodomi dengan melibatkan batu dan api. Kehancuran kota Pompei adalah muntabnya Allah pada kebejadan moral penduduk disitu -yang gemar tukar isteri, melacur, meramaikan rumah bordil dlsb- dengan melibatkan gunung sebagai alat pemusnahnya.

Jika sampeyan-sampeyan beranggapan bahwa terbitnya majalah macem Playboy, ME, Popular, FHM dan media lheeerrr lainnya, tidak turut andil dengan terjadinya bencana gempa berurutan baru-baru ini, berarti sampeyan ikut golongan pertama. Jika sampeyan-sampeyan beranggapan bahwa korupsi yang merajalela di tanah air ini tidak mempengaruhi gunung yang dijaga mbah Maridjan saat ini, berarti masih ikut golongan yang pertama.

Tapi jika sampeyan ndalem yakin bahwa tsunami yang terjadi bertubi-tubi kemarin itu dipropokasi oleh banyaknya manusia yang gak mau lagi meletakkan jidatnya ke lantai -tanda sujud pada Yang Mbikin Jidat- atau banyak manusia yang ngujo howo nepsu, ngujo moto nyawang sampil lan payudoro atau bertambah maraknya pendukung pornografi dan pornoaksi, maka sampeyan ndalem ikut golongan yang kedua.

Golongan pertama cenderung akan masa bodoh, dan tetap dalam keblingernya, tetep korupsi, tetep melacur dan tetep ngumbar hawa napsu meskipun langit runtuh. Sedangkan golongan kedua akan mengoreksi diri dan mau berubah dan mengubah amalan kocloknya menjadi amalan yang manpangat buat manusia banyak.

Sampeyan-sampeyan ikut golongan mana...??

10 Comments:

At 6:41 PM, Anonymous koeaing! nanggepi...

ada itoe iang ditenga tida mbah ?

 
At 6:57 PM, Blogger Andy nanggepi...

Kalo musibah itu kan cobaan to mbah ?

 
At 7:19 PM, Blogger Mbah Dr. Dipo nanggepi...

# andy

musibah itu bisa 2 alternatip. Bisa cobaan/ujian, bisa juga ngadzab. Kalo ujian/cobaan, berarti musibah itu "sebab". Kalo ngadzab maka musibah itu adalah "akibat".

Tsunami buat orang yg ibadahnya baik merupakan ujian/cobaan. Tapi tsunami ini buat tukang maksiyat merupakan adzab... podho2 tsunami ne ning bedo paedahe pakdhe... :)

 
At 8:12 PM, Anonymous andi nanggepi...

Setuju mbah, saya pernah baca haditsh lupa tepatnya tapi intinya Rasulullah pernah ditanyai oleh sahabat tentang bencana. "Mengapa Allah memberikan bencana kesuatu daerah sedangkan disitu masih ada orang yang beriman". Kemudian Rasulullah bersabda "Allah akan mematikan dan kemudian membangkitkan manusia yang terkena bencana itu sesuai dengan amalnya".
Jadi intinya sih sama aja dengan simbah, jangan khawatir dengan bencana klo kita tekun ngibadah dan sujud dateng Allah SWT.
Tapi bagaimana pendapat yang menyebutkan bahwa klo kita tidak memberantas kemungkaran brarti kita juga ikut andil dalam kemungkaran itu mbah. Mohon pencerahannya.

 
At 8:22 PM, Blogger Mbah Dr. Dipo nanggepi...

# andi

ada kemungkaran hrs diubah dgn tindakan atau lisan atau mbatin (iki wong imane loyo).. kalo tdk ke-3 nya berarti memberi angin pada si pelaku maksiyat... dan ini cenderung mengundang duplikasi.. Inul manakala ada yg ngedukung, memberi angin bagi bokong lainnya untuk geyal-geyol dgn pariasinya. Jangankan didukung, didiamkan saja akan sansoyo nggladrah kok...

jadi kalo diem saja andil kita dimana tahu kan cak..?

 
At 9:48 PM, Anonymous aribowo nanggepi...

tapi kan mbah susah memberi pengertian sama mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu salah.
ntar malah kita lagi yang celaka

 
At 11:21 PM, Blogger onanymous nanggepi...

kok gak ada golongan ke tiga mbah? golongan orang percaya klenik, jadi bencana terjadi karena kurang sajen kepada yang mbaurekso gitu mbah! xixixi....
abis ini mungkin ada hajatan kasih larung atawa tumbal buat demit penguasa daerah angker nih mbah :p

 
At 11:36 PM, Blogger Mbah Dr. Dipo nanggepi...

# aribowo
simbah mbuka buku nahjul balaghoh ketemu nasihat "jangan takut ngomong yang benar, karena ngomong yang benar tidak akan mengurangi rejeki dan umur, karena keduanya sudah dijatah..."

btw jane simbah yo kangelan ngamalke... isane mbuka buku thok.. :P

# onanymous

Golongan ketiga itu sebenarnya juga golongan kedua, cuma beda aliran... hehe... lha piye.. wong ada yang ketemu Allah, ada yang nemunya Darmo Gandhul Gatoloco, ada yang nemunya Ki Ageng Selo, Kyai Slamet, Ki Setomi, malah ada yang cocoknya sama Buto Rambut Geni...

 
At 6:30 AM, Anonymous the Kalong's nanggepi...

wuedhan tenan analisane...
40% yang pertama
60% yang kedua
Nah lho.... saget mboten mbah?

 
At 5:45 AM, Blogger Mbah Dr. Dipo nanggepi...

# kalong's
kebanyakan 99% ngaku ikut golongan kedua.. tapi pengamalan 99% amalannya ikut golongan pertama... hehehe... yo embuh, wong gak ada data statistiknya..

 

Post a Comment

<< Home