Monday, July 31, 2006

KUNTILANAK TAKLIM

Ini bukan cerita isapan jempol. Namun lebih merupakan ungkapan keheranan simbah pada suatu peristiwa di daerah Bojong Gede, Bogor. Peristiwanya terjadi di tahun 2004, saat simbah diserahi ngurus lahan dan kolam seluas 1,6 hektar di daerah itu. Di Lahan tersebut sudah ada 2 rumah besar, 5 kapling kontrakan dan kurang lebih 16 kolam ukuran besar dan kecil. Waktu itu rencana simbah daerah tersebut mau dijadikan pusat kegiatan dakwah.

Langkah pertama yang dilakukan simbah dan sohib-sohib adalah mengisi kolam yang ada dengan ikan lele. Untuk ini simbah nggaji 3 orang pegawe, sebut saja Tarman, Madi dan Wanto. Mereka tinggal di kapling kontrakan. Untuk menarik peran serta masyarakat, simbah menggalang dana bagi anak-anak Yatim di daerah situ. Mereka dikumpulkan dan disantuni dengan bermacam bantuan. Ada uang tunai, seperangkat alat sholat, alat tulis, Al Qur'an dan Iqro'. Waktu itu ada lebih dari 30 anak yatim kita santuni. Dan merekalah proyek pertama simbah untuk dididik di TPA yang langsung didirikan saat itu juga.

Singkat cerita, akhirnya di kalangan bapak-bapak pun juga terbentuk majelis taklim. Hanya saja acaranya malam selepas Isya. Bulan pertama berjalan lancar. Bapak-bapak itu diajar oleh pegawai-pegawai kolam yang memang dipilih yang pinter ngaji. Mulai bulan ketiga, saat selesai panen lele pertama mulai ada kasus aneh. Yakni isyu adanya kuntilanak yang suka kluyuran meronda di komplek kolam. Opo tumon....

Tadinya isyu itu dianggep angin lalu, sampai si Madi salah seorang pegawe kolam menemui sendiri si oknum kuntilanak itu saat berkeliling ronda malam memeriksa saluran kolam. Hanya saja dua pegawe lainnya sama sekali gak pernah ketemu sekalipun, meski sering juga meronda malam antara jam-jam satu sampai jam tiga malam. Bahkan seringkali di tengah rintik hujan malam-malam.

Yang bikin tambah heboh adalah di saat taklim malam digelar, karena pesertanya banyak, sebagian peserta akhirnya mendapat tempat di teras tempat taklim. Ha kok pas khusyuk-khusyuknya taklim, salah seorang peserta yang ada di luar teriak-teriak melihat kuntilanak ikut duduk di sampingnya. Tadinya dia anggep orang biasa yang nimbrung taklim, maklum suasananya agak gelap di luar. Lha begitu diamati dengan cermat, ternyata wanita berbaju putih dengan rambut terurai panjang sedang nongkrong disampingnya. Kontan saja taklim jadi geger. Sebenarnya peserta yang lain gak tahu-menahu dan tidak melihat oknum kuntilanak yang nimbrung taklim itu. tapi karena ada satu yang merasa melihat, semuanya kontan merinding.

Semenjak saat itu, taklim malam jadi sepi. Meskipun diusahakan didatangi dan diajak lagi, tapi banyak warga yang masih ketakutan untuk hadir taklim malam. Akhirnya taklim pun berhenti. TPA yang sore pun akhirnya berhenti juga. Karena selama ini TPA nya selesai menjelang maghrib, sedangkan lahan yang dikelola simbah itu kan lumayan luas. Jadi pada ketakutan juga pulangnya.

Simbah sebenarnya masih bingung akan konsep-konsep yang berbicara tentang gendruwo, kuntilanak, pocongan dlsb. Apalagi konsep jin muslim atau jin kafir. Simbah hanya memiliki konsep sederhana saja. Bahwa manusia itu diperintah taat pada Allah. Musuhnya adalah syetan yang selalu ngajak mbalelo. Temannya adalah malaikat yang menolongnya taat pada Allah.

Jadi cuma ada 3 unsur pelaku hidup yakni manusia sebagai sentral, setan sebagi penggoda dan penghalang, malaikat sebagai penolong dan pendukung.

Nah kalau ada jin muslim, dan dia makhluk ghaib, maka tetep dia harus tunduk pada aturan Al Qur'an dan Hadits. Wudhu pake air, makan yang halal, ketemu orang sunnahnya salam, korban nyembeleh wedhus, atau sapi dlsb. Lha yang terjadi tidak begitu. Katanya jin makanannya kotoran hewan, jelas ini tidak thoyyiban. Blusak-blusuk rumah orang tidak salam. Qurban gak jelas yang disembelih apa. Wudhu pakai apa gak ada keterangan. Bagaimana bisa menjalani syariat Nabi saw yang seorang manusia. Kecuali mereka punya Nabi sendiri dari kalangan mereka yang punya syariat tersendiri. Kalo begitu gak perlu diutak-utik. Gak perlu dikaitkan sama aturan Islam, ataupun Nabi Muhammad saw, wong mereka punya syariat dan aturan sendiri kok.

Sampai saat ini belum ada kyai sekaliber apapun yang bisa menjawab pertanyaan yang mengganjal di hati simbah. Maka konsep simbah ya seperti yang di atas tadi. Maka kalo si kuntilanak itu nemui kita, harusnya didakwahi, diajak sholat, mbayar zakat, munggah kaji dlsb. Bukannya lari terkencing-kencing. Ini kalo konsep jin muslim dan jin kafir dipegang. Sebab semua yang punya beban untuk taat kepada Allah harus didakwahi. Termasuk kuntilanak, gendruwo, gundul pringis dll. Bahkan seandainya ada Alien yang mendarat pakai UFO di tengah-tengah kita, mereka harus diajak juga mengikuti syariat yang berlaku bagi umat akhir jaman ini. Bukan malah diem saja dan cuma takjub sampe terngowoh-ngowoh.

Bagi simbah aturan dan agama manusia hanya bisa dijalani manusia. Bangsa jin (yg ghaib) tidak mungkin ikut aturan manusia. Jika ada istilah jin muslim dalam Al Qur'an pastilah itu manusia juga, hanya saja disebut sebagai jin karena keistimewaannya. Orang arab pun terhadap orang asing juga memakai istilah jin. Sedangkan setan, jelas-jelas mereka ingkar dan maksiyat. Dan tak pernah ada cerita tobatnya, sebagaimana gak ada cerita malaikat kok maksiyat beli nomer togel.

Namun yang jelas usaha simbah di Bojong Gede ini sekarang terhenti. Salah satu faktornya adalah kuntilanak itu. Sedangkan kolam lelenya simbah serahkan lagi ke pemiliknya untuk dikembangkan.

Sunday, July 30, 2006

TAK ADA ROTAN, BITING PUN JADI

Memang dalam keadaan darurat, segala macam cara bisa ditempuh seseorang untuk menyelesaikan masalah. Demikian juga yang dialami simbah saat bertugas selama 2 bulan menjadi sukarelawan di Ambon pada bulan Oktober sampai Desember 1999 yang lalu. Saat itu Ambon Manise menjadi Ambon Amise, amis berlumur darah. Dimana-mana aroma kematian tercium dengan kuat. Nyawa manusia tak ada harganya, kalopun ada... murah.

Di UGD tempat simbah mangkal pun dipenuhi pasien-pasien korban perang dengan bermacam jenis luka, yang kalo gak pernah lihat bisa muntah-muntah di tempat. Ada pasien luka dengan anak panah nancep 5 cm ke dalam mata, ada juga luka bacok yang menganga, luka bom rakitan yang tiap hari harus dibuangi besi logamnya, dikarenakan pecahan logamnya keluar terus satu persatu tiap hari dari lukanya. Dan asiknya, dokter boleh dikata gak ada. Ada dokter 2 biji, itupun dokter internis dan spesialis kandungan. Akhirnya ya sudah, simbah jadi 'pathok bangkong' di UGD sendirian tiap hari.

Kalo pecah perang, UGD jadi tempat paling rame. Korban perang dateng tidak satu-satu. Kruyukan... gumrudug. Sekali perang puluhan nyawa meregang di tangan simbah. Yah bisa apa sih simbah. Wong UGD gak ada apa-apa. Padahal semua pasien merasa lukanya paling parah dan pingin segera mendapat perawatan. Sampai pernah suatu hari karena gak sabaran, rumah sakit diancam dibom, perawat sampe ada yang ditodong senapan rakitan. Beberapa staf RS ngumpet di ruang OK (ruang operasi). Matreng tenan awak iki.... yah memang begitulah temperamen orang-orang dalam suasana perang.

Karena daruratnya, simbah pernah ngoperasi orang ketembak lehernya tidak pake bius total (karena ahli anestesinya sedang gak ada). Ya sudah.. diekek-ekek lehernya urip-urip. Darah jangan ditanya banyaknya. Dan hebatnya, lampu operasi gak punya. Bahkan saat itu sedang giliran pemadaman oleh PLN. Akhirnya operasipun jalan hanya dengan bantuan lampu belajar tapi dipasangi bohlam 100 watt dengan sumber listrik diesel. Baru kali itu simbah operasi sambil grayak-grayak... lha gak keliatan, mana gunting, mana pisau bedah, mana pinset...

Belum lagi persediaan obat sama sekali gak gableg. Untuk rawat luka simbah inisiatip beli madu (ini juga atas anjuran orang-orang tempatan). Ajaib memang. Luka-luka bakar, luka tembak, bacok dan macem-macem luka, cuma diolesi madu kok langsung cepet kering. Padahal simbah juga gak pake jopa-japu, hewes-hewes ataupun mbaca japa mantra sama sekali. Tapi manjur. Karena tiap hari berhubungan terus dengan pasukan-pasukan perang waktu itu, simbah jadi akrab sama mereka. Juga dengan satuan Yon Armed yang saat itu sedang bertugas. Simbah diajari make senjata SS1 bikinan PINDAD. Diajak muter-muter daerah konflik dengan pengawalan ekstra ketat.

Jangan salah, kepala dokter disana dihargai 100 juta. Perawat 50 juta. Jadi sewaktu tugas disana simbah punya pengawal yang dia bilang sama simbah rela jadi tameng hidup kalo ada serangan tiba-tiba... wah ha kok kayak presiden saja. Dan memang pernah ada kepala dokter tentara yang baru saja datang, disasar sama "sniper" malam-malam. Lha malam-malam dia ngudud klepas-klepus di kegelapan. Tahu-tahu ..."dooor"... suara tembakan terdengar. Dan peluru itu tepat mengenai bagian atas tangan kanan yang sedang nyepit udud. Lha kalo ududnya dicepit pake bibir, sudah mampir akherat itu orang.

Satu cerita lagi... meskipun banyak terlibat pertempuran, ikut ngoperasi, bahkan pernah bareng-bareng ngasisteni dr. Yose Rizal dari Mer-C, ngasih resep, dan kembola-kembali dipanggili sama orang "pak dokter", kebanyakan mereka tidak tahu yang sesungguhnya tentang simbah. Apa itu? Saat itu simbah belum jadi dokter, masih ko-as culun belum tahu lor lan kidul, wetan kulon masih grayak-grayak kayak enthung. Yah... gak ada rotan, biting pun jadi...

Thursday, July 27, 2006

PERMEN : BISNIS MANIS

Dua hari yang lalu Simbah diajak rembugan seorang pelanggan bengkel, yang sering ngobrol di bengkel Simbah. Ini orang juga habis nyunatin keponakannya yang baru berusia 5 tahun di klinik simbah. Penampilannya biasa, masih muda. Namun membawa proposal bisnis yang lumayan ngejutin. Apa itu? Permen..!!

Makhluk manis bulet ini keliatannya gak "mbejaji" secara dhohir, namun ternyata membawa hoki dahsyat bagi pengusahanya. Si Pelanggan tersebut cerita, bahwa dia seorang distributor permen yang dia distribusikan ke seantero Jakarta. Jumlah kios/outlet yang dia garap adalah 3800. Jumlah yang menurut simbah fantastis untuk ukuran anak muda yang keliatan pringas-pringis cengengesan kalo diajak ngobrol. Tadinya, dua tahun yang lalu, dia merintis usaha tersebut hanya bermodal duit 800.000 ripis. Sekarang mobil Baleno warna silver sudah nengkreng di depan rumahnya.

Proposal yang dia ajukan adalah diversifikasi permen. Tadinya dia fokus ke satu merk saja, yakni Yupi. Sekarang mau mencoba permen Pim-Pom. Nah, permen ini per biji kulakannya cuman 200 ripis. Jual ke outlet/kios seharga 400 ripis (keuntungan 100%). Nanti outlet/kios njual ke konsumen 500 ripis. Permen tersebut diwadahi toples. Tiap toples isi 50 permen. Jadi satu toples modalnya 10.000 ripis. Sederhana bukan..? Nggak juga. Mengapa..? Lha kiosnya saja jumlahnya 3800 lho... Simbah ditawari ngisi 3000 nya. Itu saja kalo per kios diisi cuma satu toples berarti modal yang harus keluar 10.000 kali 3000... 30 juta ripis broer...

Kabar baiknya......... dari 700 kios yang sudah disetor permen Pim-Pomnya itu, sudah jalan dengan manis, perhari rata-rata terjual 2 permen... Bayangkan jika 3000 kios perharinya hanya laku 2 biji permen, maka itu berarti 6000 permen per hari... dan itu berarti 180.000 per bulan. Dan itu berarti juga keuntungan kotornya 180.000 kali 200 ripis...berapa? Nggak nyangka..... 36 juta ripis broer.. (baca Rp 36.000.000,00)

Uang itu dibagi 2, pemodal dan pengusaha. Simbah sebagai pemodal dibagehi 25%. Artinya itu 25% kali 36 jeti sama dengan 9 jeti. Tarohlah paling jelek terjual cuman sebiji perhari, simbah masih bisa ngantongi 4,5 jeti per bulan. Itu cuma ongkang-ongkang, ngilar-ngiler, ongap-angop, ngowah-ngowoh thok, karo rodo melek sithik. Ha kok penak? Nyaaaat.....

Herannya kok Simbah yang ketiban sampur ditawari bisnis ini... Tapi simbah gak murko wal mburog... nggragas dipangan dewe. Bagi yang berminat mau ikut urun modal, simbah jual saham 30 lembar nih. Tiap lembar nilainya sak jeti... Malam jum'at ini sudah disambut beberapa pemodal kuat. Malah ada yang mau mborong semua, tapi simbah gak membolehkan aksi ngongso kayak gitu.

Lha kalo ada yang berminat, kontak saja sama Simbah. Kirim email ke simbah. Ntar dikasih unjuk detil rincinya. Dibuka cuma sampe 3 hari ke depan ini.

Satu hal yang simbah gak nyangka... Wong cuman jualan permen murah kayak gitu kok ya malah untungnya sak hohah gitu lho.. Lha yang kantoran pake dasi, nyangking koper, klimis, titel es satu, sepatu kinclong, kantoran di gedung tumpuk, ngadep komputer Pentium sewidak rolas.. malah gajine kadang gak ada separonya oknum penjual permen tadi. Simbah kalkulasi setelah nggaji 4 anak buah dan sekitar 5 pegawe pembungkus permen, oknum ini masih ngantongi sekitar 7 sampe 8 juta ripis bersih per bulan... dari usahanya ini.

Bisnis mut-mutan emang manis....

Tuesday, July 25, 2006

SERTIFIKASI AKHLAK

Dua Wakil Rakyat Tolak Ikuti ESQ

PURWOKERTO-Dua anggota DPRD Banyumas, Hendro Kuncoro dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Sutarso dari Partai Amanat Nasional, menolak mengikuti latihan emotional spiritual quotien (ESQ). Latihan itu diselenggarakan DPRD bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Emosional dan Spiritual Cabang Purwokerto.
Kedua wakil rakyat itu tak mengikuti kegiatan tersebut, Sabtu-Minggu (11-12/6), karena menilai anggarannya terlalu besar, yakni sekitar Rp 1 juta. Anggota DPRD yang mengikuti pelatihan 38 orang.
Dicomot dari SUARA MERDEKA Senin, 13 Juni 2005

Memang susah memiliki karyawan, pegawai ataupun pejabat yang berakhlak baik. Segala cara ditempuh agar memiliki aparat, karyawan, pegawai maupun pejabat yang akhlaknya mantep, amanah gak suka ngibul dan nggambus.

Dahulu di jaman Mbah Harto, cara memperbaiki akhlak aparat maupun pejabat  -dalam hal ini yang muslim- adalah dengan menaikkan haji para aparat dan pejabatnya. Maka dikenallah istilah Haji Abu Bakar (Atas Budi Baik Golkar) maupun Haji Abidin (Atas Biaya Dinas). Sekarang malah berkembang menjadi Haji Abidat (Atas Biaya Duit Rakyat) dan Haji Dedikasi (Dengan Duit Makar dan Korupsi).

Tapi program penghajian ini tak efektif. Justru malah menghasilkan haji-haji yang korup dan bejat. Maka tidaklah heran, di tengah masyarakat yang tadinya mereka dipanggil pak Haji berubah menjadi julukan hajingan, hajinguk maupun hajindul. Ini semata-mata dikarenakan ibadah haji tidak menyebabkan mereka tambah baik akhlaknya di tengah masyarakat. Malah banyak yang sudah haji tapi suka nongkrong dan mabok. Ada lagi haji yang gemar main judi dan bahkan jadi bandar togel. Simbah pernah ditawari seorang haji untuk membeli tanah murah di daerah Karawang. Ha kok simbah dientertain mau dianter ke daerah Ancol tempat dia kumpul sama PSK langganannya. Katanya PSK daerah situ semlohay dan mantab-mantab serpisnya.... lhadalah. Lha kalo yang nawari germo gitu simbah maklum, lha ini yang nawari kok pak haji.... weeee.. hajindul tenan wong iki.

Di era repormasi, haji tidak lagi digunakan sebagae tolok ukur baik tidaknya akhlak seseorang, bahkan sudah mencapai antiklimaksnya. Maka dibuatlah suatu metode yang diembat dari temuannya wong londo yang dikaitkan dengan masalah spiritual. Dulu ada IQ (Intelligent Quotient), lalu ada EQ (Emotional Quotient) terakhir adalagi yang namanya SQ (Spiritual Quotient). Di Indonesia digabung menjadi ESQ. Diharapkan jika lulus ujian ESQ (dengan mengikuti programnya dan mengisi semacam quesioner macem test IQ) maka peserta-pesertanya bisa menjadi manusia spiritual yang amanah dan bertanggung jawab.

Hanya saja meskipun lebih murah dari haji, metode ini tetep saja meragukan. Ha mosok cuma dengan ngikutin program trus ngisi kuesioner tiba-tiba orang bisa berubah akhlaknya? Jangan-jangan suatu ketika ESQ ini hanya sekadar sarana nyari duit bagi penyelenggaranya.. dan bagi pesertanya, sertifikat ESQ ini nanti cuma dijadikan topeng kedua setelah haji untuk menutupi wajahnya dari kebejadan yang mendarahdaging di tubuhnya... Ujung-ujungnya kita hanya bisa bilang... yah namanya juga usaha mbah....

Memang akhlak tidak bisa diubah seperti membalik telapak tangan. Banyak lulusan pesantren yang mbegajul, haji yang hajingan, pastor yang menghamili biarawatinya, biksu yang gemar masturbasi, atau pendeta yang makan harta gereja... Akhlak harus disiapkan sejak dini, tidak ada yang instan.

Menghasilkan manusia yang bertaqwa dan berkwalitas ibarat seperti menanam tanaman. Yang dilakukan pertama kali adalah memilih lahan yang subur dan baik. Lalu benih yang baik... setelah itu dipupuk, diberi antihama, dijaga dst...dst... Nah milih lahan yang baik itu adalah ketika memilih calon isteri yang nantinya akan kita buahi. Cari wanita yang baik, yang menjaga rahimnya dengan terhormat. Kalo nyarinya malah wanita yang lahannya sudah dipaculi bola-bali... yah yo wis kono lah... Orang fasik jaman sekarang bilang keperawanan gak penting.

Bibit yang baik adalah ibarat bibit dari sang laki. Jadi harus sperma  laki-laki yang taat sama Yang Mbikin Sperma. Sehingga setelah itu kalo sudah tumbuh bibitnya, tinggal ngrawat dan menjaga bibit tersebut tumbuh dengan baik.

Pada suatu malam Umar bin Khattab mendengarkan seorang ibu penjual susu ngobrol dengan anaknya. Si ibu nyuruh anak perempuannya nyampur susu dagangannya dengan air. Si anak perempuan itu menolak karena takut kepada Allah. Umar gak pikir panjang... inilah lahan yang baik buat bibit anak laki-lakinya. Dan setelah itu anak perempuan itu dipek mantu... Hasilnya... Umar bin Abdul Aziz -seorang khalifah yang terkenal adil dan pembawa berkah bagi umat manusia- lahir dari jalur rahim perempuan anak penjual susu tersebut.

Saturday, July 22, 2006

GOJLOGAN

Kemaren Simbah kedatangan seorang pasien anak SMA yang menderita demam tinggi. Usut punya usut ternyata anak ini kelelahan karena telah seminggu ini dia mengikuti apa yang disebut sebagai MOS. Apa maning iki? Tikus? Bukan, ternyata singkatan dari Masa Orientasi Sekolah. Di tempat Simbah sering disebut gojlogan. Sebutan makhluk yang satu ini memang macem-macem, sesuai tempatnya masing-masing. Di kampus ada OPSPEK, MPK (Masa Perkenalan Kampus), ada yang menyebutnya dengan Perploncoan. Waktu simbah SMA, dinamakan Perdana, Perkemahan Muda Kelana... (boeng Koeaing! tahoe itoe poen).

Meskipun namanya beda, tapi inti acaranya sama. Selalu ditulis dalam proposalnya, maksud dan tujuan acara itu dengan indahnya. Ada disebut di proposalnya itu : demi mendidik siswa/mahasiswa agar menjadi manusia mandiri, berani, bertanggung jawab, setia kawan, berbakti demi bangsa, negara... bla..bla..bla.. pokoke yang bagus-bagus lah. Tapi pada prakteknya, seringkali (tidak semua lho) yang terjadi dalam acara ini adalah ajang narsis senior terhadap yuniornya. Selain narsis, juga dipenuhi dengan bentuk-bentuk kedholiman ala senior dengan segala bumbunya.

Dalam selubung dholimnya berlaku dua aturan bagi yunior. Pertama : Senior gak pernah berbuat salah. Kedua : Jika senior berbuat salah maka berlaku aturan Pertama.

Sewaktu SMA dulu Simbah didapuk (ditunjuk) menjadi panitia bagian urusan ngibadah dalam suatu ajang gojlogan. Pada waktu jurit malam - yakni suatu ajang pemuasan napsu senior untuk menguliti yuniornya - ada satu regu yunior dihukum gara-gara ada suara kenthut yang kenceng meletup di tengah-tengah acara. Mak jebruuuuut... Kenthut yang beraroma murus wal mangsur ini dituduhkan kepada yunior. Maka sang senior dengan lantangnya berteriak : "Siapa yang tadi kenthuut, ayo ngaku.....!!!"

Maka semua "ngaku", maksudnya menjadi kaku, diem gak berani ngomong dengan penuh ketegangan. Tak ada yang mengaku satupun. Semua ngeri dengan akibat yang harus ditanggung jika ada yang mengaku. Maka karena tak ada yunior yang mengaku, sang senior pun memberikan hukuman bagi seluruh anggota regu itu. Disuruhlah push up semua yunior yang ada di regu itu, sampai ngos-ngosan dan hampir terkenthut-kenthut. Belum ada yang ngaku juga. Maka hidangan berikutnya adalah sit up. Karena tak terdengar pengakuan, menu selanjutnya adalah lari di tempat sampe gobyos. Setelah keple-keple bermandi keringat, regu yunior ini dilepas ke senior yang lain untuk melanjutkan perjalanan melanglang derita dari senior berikutnya.

Herannya setelah satu regu yunior ini pergi, salah satu senior dengan jegegas-jegeges, senyam-senyum nyengir kuda ngomong ke senior sampingnya, "Sing ngenthut mau aku cah...(Yang kenthut tadi saya coy)" ...Wooo lha senior bajinguk tenan iki. Simbah makin heran manakala senior-senior yang lain malah ngakak habis. Ini sudah lempar batu, malah tambah lempar sepatu. Kasian si yunior yang harus menanggung derita gara-gara kenthut yang memang tidak mereka ledakkan.

Itu cuma segelintir contoh dari usaha yang konon katanya ingin menjadikan yunior "manusia yang mandiri, berani, bertanggung jawab, setia kawan, berbakti demi bangsa, negara... bla..bla..bla.." tadi.

Kita tentunya masih ingat peristiwa yang terjadi di STPDN, atau peristiwa tewasnya Mahasiswa ITB pada beberapa tahun yang lalu akibat kekejaman gojlogan and the gang nya. Itu yang terungkap di permukaan. Yang terselubung masih sak tekruk. Ada yang harus rela dipukuli senior karena tidak ikut acara gojlogan. Padahal acara sudah bubaran. Ada yang harus rela kepalanya digunduli, gara-gara mangkir gojlogan. Ini semua dilakukan di luar acara.

Simbah sendiri waktu kuliah, mangkir dari acara ini. Setelah gojlogan selesai, simbah diurus sama senior-senior simbah. Saat kuliah selesai, tiba-tiba panitia gojlogan senior masuk ruang kuliah dan memanggil yunior (termasuk simbah) yang tidak ikut acar gojlogan. Simbah ditanya, "kenapa kamu gak ikut?" Simbah masih inget sekali jawaaban simbah waktu itu.... "Saya gak ikut karena acara itu tidak ada manfaatnya sama sekali, dan kalian banyak maksiyat di sana...".

Mak prepet... mungkin senior-senior itu gak nyangka simbah akan njawab seperti itu. Jadilah kuliah hari itu dipenuhi makian-makian kotor senior pada simbah. Malah ada yang ndalil pake AL Qur'an segala. Simbah cuma diem dan mbatin, "maki sepuas kamu, tapi sedikit kalian nyentuh baju simbah, tak jamin jadi BAP ke pengadilan...". Dan memang tak ada kontak fisik sedikitpun dari mereka ke simbah. Mujur kalian hari ini... pikir simbah.

Kadang-kadang di dunia intelektual pun, praktek-praktek jahiliyah model kayak gini masih tumbuh dengan suburnya. Malah ada yang menyebut gojlogan itu sudah menjadi tradisi kebudayaan sekolah/kampus. Heehhh... kebudayaan. Kebo dho yak-yakan.... (kerbau pecicilan)....

Thursday, July 20, 2006

SALAM NGEMIS

Simbah gak tahu, ini khas Jakarta saja atau di daerah lain berlaku sama. Yang jelas di tempat asal Simbah, model salam yang beginian tidaklah lazim didapati. Diawali dengan teriakan "Assalamu'alaikum" ... trus diakhiri dengan teriakan agak pelan "sedekahnya buu...".

Yang mbikin Simbah gerah adalah salamnya itu. Dari teriakan salamnya itu, konsekwensi image yang terbentuk nggak enak dibayangin.
  1. Memberi kesan bahwa tukang ngemis itu mesti muslim. Meskipun sekaligus bisa juga positip tingking, bahwa yang suka bersedekah itu muslim. Tapi yang awal lebih mengena, karena pemberi salam adalah yang memulai.
  2. Merendahkan nilai salam. Karena salam ini biasa digunakan sebagai preambule ngemis, maka setiap kali ada ucapan salam konotasinya ngemis. Pernah ada seorang guru ngaji bertamu dan ngucap salam, dijawab dari dalam oleh si empunya rumah... "maap aja pak..".
  3. Si Pemberi salam asal lempar salam. Dia nggak tahu si empunya rumah ini orang kapir kures jahiliyah atau Budha Hinayana atau Zarathustra penyembah Ahuramazda ataukah bener-bener muslim.  Padahal salam seperti ini khas untuk muslim saja.
  4. Jawaban salam harusnya "Wa'alaikumsalam", tapi gara-gara penyelewengan ini jawabannya seringkali adalah "maap aja pak.." atau "maap aja buu...".  Ini pelecehan... baik yang memulai maupun yang menjawab salam..
Simbah lebih suka melihat orang yang dengan gigih jualan makanan atau barang yang sebenarnya sepele dan harganya gak seberapa tapi dilakoni dengan sungguh-sungguh. Lihatlah orang yang jualan garam.. nilai total jualannya -meskipun naik sepeda dipenuhi garem sak hohah- tidak lebih dari 150 rebu ripis. Nilai yang sama yang harus dikeluarkan untuk njengking selama 2 jam di hotel berbintang 5. Tapi inilah justru Sang Pemberani. Berani melakoni hidup tanpa harus ngemis, nyebar salam palsu dari pintu ke pintu.

Bini simbah pernah beli krupuk yang rasanya ngudubilah setan alas..asiin ... seharga dua rebu ripis. Itu krupuk dibeli bukan karena rasanya... tapi lebih karena menghargai keberanian si penjualnya untuk menjauhi ngemis. Mengeluarkan seribu duaribu buat mereka lebih membanggakan hati daripada diberikan kepada pemuda berotot kekar yang bisanya paitan/modal abab, mbaca puisi .. ngeman methekole. Gur nggo medhen-medheni sing dijaluki duwit. Diberi mangatus mlotot, apalagi cepek... iso-iso mencothot.

Pariasi ngemis inipun tidak hanya merambah area 'salam' saja. Cobalah naik kereta api kelas ekonomi atau bisnis. Seribu satu macem cara dipakai untuk merangkai jurus-jurus maut partai Kai Pang ini. Ada bapak-bapak jenggoten sangar nggendong bayi, ada embah-embah buta dituntun ibu-ibu kumal, ada yang ngesot kayak suster (loh..??) ada juga yang pakai jurus klasik dengan hanya berbekal 3 kata... "Bang, minta bang...!"

Selain pariasi, ada juga topeng atau kedoknya. Ada yang berkedok jadi tukang sapu, tukang sulak, ataupun tukang mbeliin tiket. Intinya ngemis. Bahkan ngamen pun dipake kedok juga. Ha wong ada yang bisu tapi nekat ngamen... simbah sampe melu ngenes...

Inilah yang mbikin Simbah kadang gak habis pikir sama orang-orang kaya negeri ini. Ulang tahun bayi precil umur 3 tahun saja sampe habis anggaran 10 juta. Ngentertain pejabat magrok di resto cuma mak nyuk gitu aja habis 5 jutaan. Gek iki sing dipangan opo sate cocakrowo utowo semur tengkek urang po yo..?? Studi banding...hoeekhh.. ke monco negoro sak anak bojo, putu, ponakan, tonggo.. dikukut kabeh.. makan harta negara milyaran. Tambah koplo lagi kalo materi studi bandingnya tentang kemiskinan. Nyinau tentang kere kok ndadak tekan njaban rangkah lho..

Belum kaum hedonisnya. Pernah lihat harga-harga baju di Plaza paling terkenal di Indonesia? Harga sempak nya thok saja bisa nguripi keluarga pengemis sampai seminggu lebih. Harga dasinya bisa buat mborong sego kucing untuk 5 kesebelasan. Belum harga bajunya. Padahal bajunya itu kalo dipake tetep saja masih ngumbar aurot... ha kok malah muahalnya pol... duh Gusti paringono dahar..

Mangkanya kok pulo Jawa dan Sumantrah dihorog-horog terus. Rupa-rupanya untuk memaksa agar orang yang kaya mau berbagi tho... Kuwi yen gelem..  Lha mau apa gak sih..??

Wednesday, July 19, 2006

ANALISA BENCANA

Menurut sohib Simbah pandangan orang terhadap alam di sekitarnya itu ada dua macem. Yang dimaksud alam disini adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik benda mati ataupun benda hidup.

Pertama, mereka beranggapan bahwa alam bersikap netral terhadap manusia. Sehingga manusia mau njengking, mau mekangkang, atau mau njingkrung alam gak terpengaruh. Mau ngibadah atau mau mbromocorah alam gak berubah.

Golongan ini melihat bahwa bencana yang terjadi adalah suatu proses alam yang memang alami.  Banjir, gempa bumi, kebakaran, dan ontran-ontran lingkungan sekitar manusia itu terjadi karena memang begitulah sweharusnya. Alami saja. Gempa khan karena ada patahan bumi yang bergeser. Gunung meletus khan hanya peristiwa vulkanik biasa. Banjir... ini hanya problem manajemen aliran air. Kebakaran... kelalaian biasa yang bisa terjadi pada siapa saja. Tsunami... aaah itu kan hanya efek normal dari gerakan dasar laut yang membentuk gelombang secara longitudinal maupun transversal... (yang terakhir ini simbah rodo mumet dan ra mudheng).

Sehingga cerita-cerita kaum terdahulu yang terkena bencana hanya dianggap peristiwa alam biasa. Banjir Nabi Nuh, dianggap sebagai model tsunami purba, biasa lah. Kebinasaan kaum Nabi Luth, dianggap sebagai korban tanah longsor biasa. Nabi Musa nyebrang Laut Merah, dianggap wajar-wajar saja... "..kan nyebrangnya saat surut.." begitu kata mereka. Kehancuran penduduk Pompei dianggap sebagai korban gunung meletus yang bisa mengenai siapa saja.

Jadi semua yang terjadi ini merupakan peristiwa alam, yang tidak terkait dengan moral dan perilaku manusia.

Kedua, adalah mereka yang berpendapat bahwa lingkungan itu tidak netral kepada manusia. Lingkungan akan memberi respon balik tergantung moral, amalan atau perilaku masing-masing manusia.

Maka semua bencana, musibah, ataupun peristiwa lingkungan dan alam yang terjadi terkait dengan apa yang dikerjakan manusia. Golongan ini meyakini bahwa banjir yang terjadi pastilah ada dari kelakuan dan pecicilannya manusia terlibat disitu. Gempa, meskipun peristiwa tektonik ataupun vulkanik, tidak akan terjadi kalo manusianya tidak mbalelo dan banyak maksiyat. Gunung tidak meletus kalo manusia yang ada di sekitar gunung sujud dan taat pada yang Mbikin Gunung.

Maka banjir Nabi Nuh adalah kemarahan Allah yang melibatkan air -entah tsunami atau air bah- untuk menghukum manusia yang maksiyat. Kehancuran umat Nabi Luth adalah bentuk murka Allah pada kaum homoseks (homok maupun lesbi) dan tukang sodomi dengan melibatkan batu dan api. Kehancuran kota Pompei adalah muntabnya Allah pada kebejadan moral penduduk disitu -yang gemar tukar isteri, melacur, meramaikan rumah bordil dlsb- dengan melibatkan gunung sebagai alat pemusnahnya.

Jika sampeyan-sampeyan beranggapan bahwa terbitnya majalah macem Playboy, ME, Popular, FHM dan media lheeerrr lainnya, tidak turut andil dengan terjadinya bencana gempa berurutan baru-baru ini, berarti sampeyan ikut golongan pertama. Jika sampeyan-sampeyan beranggapan bahwa korupsi yang merajalela di tanah air ini tidak mempengaruhi gunung yang dijaga mbah Maridjan saat ini, berarti masih ikut golongan yang pertama.

Tapi jika sampeyan ndalem yakin bahwa tsunami yang terjadi bertubi-tubi kemarin itu dipropokasi oleh banyaknya manusia yang gak mau lagi meletakkan jidatnya ke lantai -tanda sujud pada Yang Mbikin Jidat- atau banyak manusia yang ngujo howo nepsu, ngujo moto nyawang sampil lan payudoro atau bertambah maraknya pendukung pornografi dan pornoaksi, maka sampeyan ndalem ikut golongan yang kedua.

Golongan pertama cenderung akan masa bodoh, dan tetap dalam keblingernya, tetep korupsi, tetep melacur dan tetep ngumbar hawa napsu meskipun langit runtuh. Sedangkan golongan kedua akan mengoreksi diri dan mau berubah dan mengubah amalan kocloknya menjadi amalan yang manpangat buat manusia banyak.

Sampeyan-sampeyan ikut golongan mana...??

Monday, July 17, 2006

ONCE UPON A TIME IN NJARATAN

Di desa asal Simbah, komplek pekuburan disebut sebagai 'njaratan'. Simbah nggak tahu etimologi kata ini. Apakah dari bahasa Sanskerta, jawa kawi, atau bahasa Mohenjo Daro dan Harapa. Yang jelas njaratan mewakili suasana seram khas ala komplek pekuburan.

Kurang lebih 11 tahun yang lalu, Simbah mengalami kejadian yang sampai saat ini masih cukup mencekam untuk diingat. Malam itu bukan malam Jum'at, tepatnya hari Rebo. Kejadiannya didaerah Jatiyoso, Karanganyar, Solo. Ada 4 desa yang merupakan garapan Simbah dan sohib-sohib untuk diajari ngaji dan taklim. Mulainya dari Ashar sampai jam 21.00, lalu pulang ke Solo yang berjarak 60 km. Acaranya seminggu 2 kali, dengan team pengajar 4 orang tiap kali datang.

Hanya saja saat itu cuma 2 orang yang berangkat, yakni Simbah dan seorang sohib asal betawi yang sekarang anaknya sudah 8 biji. Dengan naik belalang tempur Astrea 800, simbah bagi tugas. Selepas Isya simbah mbuka pengajian dengan tema masalah iman pada yang ghaib. Dasar orang desa, yang ditanyakan malah hal-hal yang berkaitan dengan hantu, gendruwo, gundhul pringis, banas pati, dan konco-konconya.

Simbah nasehati, "Ojo percoyo makhluk-makhluk koyo ngono kuwi, masiyo ono, karo Al Qur'an kalah kabeh... wis tho, angger ono Al Qur'an setan ora doyan, demit ora ndulit, iblis kalis, sihir nyingkir, teluh luluh, santet digencet, sebeh ilang kabeh, jimat minggat... kurang opo hayooo...!!"

Dengan berapi-api simbah membekali wong-wong ndeso kluthuk ini dan menguatkan keyakinan mereka. Hanya saja saat itu Simbah inget, bahwa selepas acara itu Simbah harus njemput sohib Simbah dengan belalang tempur yang ada ke desa sebelah. Dan itu berarti melewati njaratan besar di pinggir jalan. Wah... deg-deg plas juga simbah jadinya. Padahal jaraknya sekitar 1,5 km, dan tak ada penerangan sama sekali. Ditambah jalanan yang ada masih berupa batu-batu kali yang ditata, jadi nggak bisa ngebut.

Benar saja, jarak 50 m dari njaratan, jalanan menurun.. Simbah tambah ndrodog.. Ha kok pas deket jembatan, belalang tempur simbah ngadat... mak pet. Wis kojur ane... blas gak bunyi mesinnya. Simbah dengan terponthal-ponthal berulang kali nyetarter. Mak brut... bruut... blas gak bisa jalan. Simbah nglirik ke samping... wadhuh ada belasan kijing (nisan) seakan prengas-prenges ngece Simbah. Dumadakan di depan simbah keliatan ada benda putih di pinggir jalan. Karena gak bisa jalan, simbah tuntun saja motor itu dengan agak berlari. Dalam keadaan panik Simbah tabrak saja benda putih misterius itu. Glodhaak.... ternyata karung plastik isi pasir. Welhadalah, ha kok semua pelajaran taklim yang barusan Simbah berikan ilang semua. Bayangan simbah sudah macem-macem saja adanya. Yang pocongan lah, kuntilanak, sundel bolong dan lain sebagenya, muncul satu per satu di benak simbah.

Setelah mengumpulkan keberanian yang ada, simbah tuntun motor itu. Sekitar beberapa ratus meter ke depan, nampaklah cahaya neon. Simbah bawa ke tempat terang motor itu dan simbah cari biang kerok kemogokan belalang tempur itu. Ternyata tutup businya copot.... ealaah.. Setelah dipasang, jalan lagi motornya. Dan simbah melanjutkan perjalanan ke desa sebelah.

Sesampai di desa tersebut, simbah disambut penduduk daerah situ yang saat itu sudah selesai pengajiannya. Mereka komentar, "Wah kok kendel temen sampeyan liwat njaratan dhewekan. Kono iku lak gudange makhluk alus mbah. Opo ora diganggu sampeyan. Opo nduwe kasekten malahan...?"

Kasekten piye tho pakdhe-pakdhe... Wong lewat sambil ngewel gitu kok dikatakan kendel bin berani. Ternyata ngomong di pengajian itu lebih gampang daripada harus ngalami sendiri. Mungkin kita masih ingat nyanyian anak-anak... :

tak jenthit lolo lobah                 wong mati ora obah
yen obah medheni bocah       yen urip kudhu ngibadah

Tapi begitu ketemu mayit kok malah ketakutan. Perasaan yang sama akan dialami manakala duduk dekat kamar mayat di RS, atau di lab anatomi, atau tempat-tempat dimana ada aura kematian. Kok bisa ya..? Padahal wong urip itu lebih medheni lho...

Friday, July 14, 2006

HARI YANG DAHSYAT

Ini merupakan pengalaman nyata Simbah di penghujung tahun 1996. Saat itu Simbah sedang menghadapi midsemeter mata kuliah Filsafat Pancasila, suatu mata kuliah MKDU. Simbah waktu itu diajak menerapi seorang remaja yang kecanduan Narkoba, yang saat itu harus dibawa ke suatu Pesantren di tlatah Ngawi. Simbah keberatan, soalnya sedang ujian. Tapi waktu itu disindir sama temen, "Wis mangano Pancasila kono, sak waregmu...!"

"Yo wis lah ayo..." Simbah akhirnya nyerah. Dan meninggalkan ujian midsemester saat itu. Namun simbah akhirnya titip salah seorang teman untuk nggarapne ujian Simbah sekaligus titip tandatangan hadir.  Dengan catatan, "Yen awakmu rawani, rasah bae. Tiwas konangan. Tapi yen wani garapno sak isamu. Sing penting kethok melu, minongko sarat...".

Walhasil, saat itu Simbah berangkat mengantar si korban Narkoba ke Kyai di Ngawi itu. Dengan berharap-harap cemas semoga titipan ujiannya sukses tidak konangan.

Akhirnya Siang menjelang dhuhur Simbah sudah sampe ke Pesantrennya. Gambaran kita tentang pesantren itu adalah pesantren yang ketat dengan tata tertib yang membuat si santri bisa berakhlak yang baik. Lha ternyata setelah sampai, Simbah dan konco-konco  mendapati banyak santrinya di kamar-kamar mereka sedang udad-udud, ida-idu, mesam-mesem, eca-eco ra karu-karuan.

Akhirnya Simbah serombongan batal menitipkan si korban Narkoba tersebut ke Pesantren itu. Pulanglah kita serombongan selepas dhuhur. Nah di perjalanan, perut Simbah cs mulai berkokok. Diputuskanlah oleh amirussafar untuk mampir makan di warung. Namun sebelum masuk warung sang amir selalu memerintahkan satu telik sandi untuk masuk warung dan mengamati macam ragam makanan di warung itu. Jika ada bir, atau barang haram dijual disitu, kita batal mampir.

Setelah membatalkan hampir 5 warung, dengan akibat kokok ayam jago di perut semakin brutal, akhirnya kita dapati warung makan yang menurut telik sandi rombongan "clear" dari gaglakan harom. Makanlah kita sak mblendinge. Setelah mbayar kita berangkat lagi.

Di mobil, temen Simbah yang bertugas mbayar, cerita, "Mau pas mbayar aku weruh saren ki cah, piye iki? Lha sarene didelikne neng cedhak duit, dadi yo ra kethok... piye ki cah?" Saren adalah nama lain darah goreng, atau marus atau dideh...

Glodhaak......
"Lha wis kolu kabeh ngene piye?" ada yang menimpali.
"Khan awake dewe ra mangan sarene..." Yang lain menenangkan.
"Lha yen ndoge karo tahu tempene mau digoreng bareng sarene piye jal? Opo gorengane mau ora marai nyiprati harom barang gorengan liyane..?" ini malah mbikin mumet lagi.
"Tapi wong yen nggoreng saren ki biasane keri dewe kok cah.." temen simbah menenangkan lagi. "Khan saren ki amis, ra mungkin digoreng dhisik."

Setelah ngetuprus ngalor ngidul akhirnya salah seorang ustadz simbah yang ikut rombongan menyarankan :
"Yen neng kadis  kae, Abu Bakar r.a. ki mbareng weruh susu sing agi wae diombe jebul barang ra cetho halal harome, dheweke langsung muntahne susu sing wis diombe kuwi... Lha saiki awake dhewe yen ragu, wis apike ngono wae, dimuntahne maneh, ben ra ragu..."

Begitu patwa diwedhar, Simbah sak rombongan langsung nyogoki telak, truss.... hoeekh...hhoooakh...uuuueeeeehhgk....cuuh... Muntah sak kayange. Semua isi perut diobok-obok, sampe mata Simbah mbrebes mili.. Wah memang berat njaga perut dari makanan harom.

Besoknya simbah nanya tentang nasib ujian simbah. Ternyata temen simbah mau mbikin jawaban dobel. Satunya buat simbah. Tapi dia bilang, "Tak garapne separo thok lho mbah, lha wektune enthek... tujune ra konangan..."

Tapi waktu yudisium, temen simbah ini muring-muring gak karuan. Pasalnya di matakuliah Pil sepet ini dia cuma dapat nilai 2,5 alias C sedangkan simbah yang digarapke malah dapet nilai 3,0 alias B. Weh kok isoh...? Bener-bener hari yang dahsyat...

Tuesday, July 11, 2006

MUSIM SUNATAN

Musim liburan ini Simbah banyak kedatangan pasien yang hendak mengkhitankan anaknya. Ritual satu ini punya banyak nama. Ada yang nyebut sunat, karena merupakan sunnah (perjalanan perilaku) Nabi saw. Ada yang nyebut supitan, tetakan, angislamaken, sirkumsisi, malah guru bahasa Inggris Simbah waktu SMP menyebut ritual itu dengan nama "pothol".

Yang datang pun beragam umur. Yang paling tua yang pernah datang ke rumah Simbah adalah anak SMA. Hmmm... ini agak susah, daging sudah alot, suket itemnya sudah runggut dan yang jelas lebih godres getih. Sedangkan yang paling muda umur 5 tahun. Inipun bukannya tanpa kendala, karena si anak non kooperatif dan rewelnya minta ampun.

Orang Jawa lebih suka anaknya disunat pada umur-umuran anak SMP. Sedangkan orang sunda lebih suka umur anak balita sudah disunat.

Ngomong-ngomong tentang sunat, rupa-rupanya kata sunat yang berarti sunnah ini berubah makna. Sunat yang yang pada prakteknya ada proses memotong, akhirnya diasosiasikan dengan arti kata ini, yakni memotong. Maka jika ada kalimat "Jatah makannya disunat", bisa bermakna jatah makannya dikurangi atau dipotong jumlahnya.

Nah di bulan ini wacana gaji ke-13 mulai ramai dibicarakan. Kita tahu angka 13 sering diasosiasikan dengan angka sial. Tentunya tidak demikian dengan gaji ke-13 ini. Ini angka yang ditunggu-tunggu malahan. Banyak PNS yang mengeluh gaji ke-13 nya diterima dalam keadaan tidak utuh alias disunat. Nah kalo sunatan yang ini bukannya sunnah, tapi harom jiddan. Tapi ya begitulah masyarakat Indonesia... kecilnya disunat, gedhenya nyunat.... tapi nyunat gaji orang lain.

Simbah termasuk golongan orang yang menerima gaji ke-13 ini, bahkan gaji ke-14, ke-15 dan seterusnya.... Hawong gajiannya mingguan je... Kelasnya masih kelas buruh proletar, belum mborjuis. Mudah-mudahan di musim sunat tahun ini, perilaku nyunat jatah rejeki orang lain segera hilang ....

Monday, July 10, 2006

POLIBINI

Pada saat Simbah memimpin taklim, ada peserta yang mengajukan pertanyaan. Orang ini salah satu mantunya adalah orang Yaman. Soal yang diajukan adalah masalah poligami.

"Mbah, ane fernah denger itu ada orang bilang bahwa kita boleh funya isteri samfek sembilan. Afakah memang begitu Mbah? Katanya dia mengamalkan ayat Al Qur'an mbah..."

Weleh...Simbah jadi inget, itu kasus pernah diekspos salah satu TV swasta belum lama ini. Ada orang Jawa Timuran, yang punya bini sampe 9 dan berdalih bahwa itu adalah keyakinan agamanya.

"Gini wan...," Simbah mulai njawab. "Perintah beristeri lebih dari satu itu ada di Surat An Nisa ayat 3 yang sebagian redaksinya berbunyi '..fankihuu maa thooba lakum minan nisaa matsna wa tsulasa wa rubaa'.." artinya : maka nikahilah oleh kalian apa yang baik buat kalian dari wanita itu dua atau tiga atau empat..."

"Lantas kenapa bisa jadi sembilan mbah?"

"Itu kan gara-gara orang nggak paham bahasa arab wan. Di redaksi itu ada kata 'wa' yang biasa diartikan 'dan'. Nah orang yang kebetulan Abdul Manuk (Hamba Kemaluan) mengartikannya dengan kata itu sehingga menurut uteknya yang penuh hawa nepsu itu dijumlahkanlah bilangan-bilangan itu, sehingga diartikan "Maka nikahilah oleh kalian yang baik buat kalian dari wanita itu dua dan tiga dan empat.."........... Yo wis.. loro tambah telu tambah papat hasilnya songo bin sembilan..."

"weh.... ini ferlu diluruskan mbah... yang benar gimana ituh..?"

"Loh, kata 'wa' dalam bahasa arab itukan tidak selalu berarti 'dan' wan. Ente kan orang sono, encik arab, jangan mau dienciki wan. Kata 'wa' itu kan bisa berarti qosam atau sumpah, misal wal ashri (demi waktu), wa dhuha (demi waktu dhuha), bisa diartikan 'atau' sebagaimana surat An Nisaa diatas, bisa juga diartikan 'dan'. Jadi ya gak semua diartikan 'dan' lho wan....."

Di sini nampak betul bahwa isi Al Qur'an itu jika diterjemahkan secara bebas oleh orang yang bukan ahlinya, maka akan menghasilkan penyelewengan. Tapi simbah heran juga, banyak sekali yang hanya berbekal Al Qur'an terjemahan sudah berani cas cis cus berfatwa halal haram kesana kemari. Malah ada yang berpendapat bahwa Al Qur'an harus diterjemahkan bebas, terlepas dari kaidah ilmu tafsir yang sudah mapan.

Friday, July 07, 2006

ABORSI

Perbuatan yang satu ini dihujat dan dikutuk oleh agama manapun. Bahkan oleh orang atheis. Dunia kedokteran juga tidak merestui tindakan ini, kecuali karena suatu alasan medis yang dibenarkan.

Tapi bagaimana kalau ada ulama yang memperbolehkan...?? Mungkin kita akan kaget juga. Ulama cap opo iki?
Sebagian dari mereka beralasan bahwa jikalau janin belum berumur 4 bulan - sebagaimana termaktub di dalam hadits yang shahih - maka janin tersebut belum ditiupkan ruh. Maka menggugurkannya bukan merupakan pembunuhan. Mumet pora kowe..?

Perlu diketahui bersama, bahwa yang namanya ruh dan hidup itu 2 hal yang berbeda di dalam keyakinan agama Simbah, yakni Islam. Makhluk hidup belum tentu memiliki ruh. Makhluk hidup yang juga memiliki ruh hanyalah manusia dan hewan.

Bagaimana dengan tumbuhan? Tumbuhan adalah makhluk hidup sesuai dengan ilmu yang kita miliki. Namun menurut kaidah hadits yang shahih, menggambar tumbuh-tumbuhan adalah dibolehkan dikarenakan tumbuhan tidak memiliki ruh.

Orang yang sedang tidur adalah masih hidup. Namun sesuai dengan ayat-ayat suci di dalam Al Qur'an, mereka itu ruhnya sedang di dalam genggaman Allah, maka disebut oleh Al Qur'an dan Al Hadits sebagai "Mati".
Doanya saja kan berbunyi, "Bismika Allahumma Ahya wa bismika Amuut." (Dengan menyebut nama Mu ya Allah aku hidup, dengan nama Mu pula aku mati).

Meskipun tumbuhan adalah tidak punya ruh, namun di dalam riwayat yang shahih, kita tidak diperbolehkan asal tebang dan asal ngrusak pohon-pohon yang ada. Nggunduli hutan, mbakar hutan dlsb.

Nah disinilah mulai kelihatan blundernya ulama yang membolehkan aborsi janin yang masih usia di bawah 4 bulan. Memang janin itu belum punya ruh. Tapi bukankah dia makhluk hidup, bahkan calon makhluk hidup yang nantinya punya ruh? Sementara itu kita tidak dibolehkan sewenang-wenang kepada makhluk hidup, baik yang punya ruh maupun yang tidak punya ruh. Jangan asal mentang-mentang janin belum punya ruh trus boleh dirontokkan semaunya. Itu kan makhluk hidup juga.

Kalo ngikutin logikanya ulama yang membolehkan aborsi janin yang usianya dibawah 4 bulan tadi, maka cobalah pikirkan skenario jahat simbah ini...! Simbah akan datengin itu ulama pas sedang tidur, bukankah orang yang sedang tidur tidak punya ruh?? Nah, kalo simbah kirim ulama itu ke akherat saat itu juga, maka seharusnya tindakan inipun dibolehkan bukan? Dan tidak termasuk pembunuhan, karena simbah mbunuh makhluk yang gak ada ruhnya.... weee lhadalah urip kok sansoyo ra karuan... mampir ngombe warunge wis rusak...

Wednesday, July 05, 2006

TEORI NGGLADRAH TENTANG DONGENG

Dongeng iku dipaido keneng. Dibantah gak masalah. Yang jadi masalah, dongeng biasanya dituturkan kepada anak-anak yang memang gak bisa maido. sehingga pasti akan ditelan bulet-bulet dan mentah-mentah, tanpa dimasak, dan tanpa dikunyah/dicerna.

Sampai saat ini dongeng masih menjadi menu favorit anak-anak sebelum tidur. Simbah sendiri masih melakukan ritual ini. Hanya saja, materi dongeng - meski dipaido keneng - haruslah dipilih yang benar-benar selektif. Ibarat milihken makanan buat anak-anak kecil. Jangan anak masih umur setahun sudah dikasih blanggreng, karena bisa kloloden sontrot pohung. Atau anak masih 4 bulan sudah dimut-muti permen ndhog cecak, wah bisa kisruh ususnya. Karena sekasar apapun itu makanan, asalkan kita masukkan ke mulut anak, ya telan aja. Sama halnya dengan materi dongeng.

Dongeng yang diceritakan pada anak akan membawa kesan yang dalam pada diri anak, dan itu akan dibawa sampai gedhenya. Maka tanamlah bibit yang benar, nanti akan menuai hasil yang benar pula.

Dibawah ini simbah cantumkan beberapa dongeng yang membawa pesan moral yang kurang baik bagi anak.

1. Kancil Nyolong Timun.
Ini dongeng paporit anak-anak. Tapi isinya ngajari nyolong sama ngajari ngapusi. Jangan-jangan banyaknya koruptor yang seliweran di Indonesia ini karena cilikannya pada didongengi Kancil Nyolong Timun sama guru TK dan Playgroupnya.

2. Joko Tarub.
Wah ini dongeng berbau Pornoaksi. Si Joko Tarub gaweannya nginjengi widodari adhus. Trus milih dan nyeleksi mana yang paling nyakdhut untuk dicolong selendangnya. Ini lebih parah lagi, sudah porno, nyolong lagi.
Mangkanya aktifitas pornoaksi susah dibrantas, ha wong dongeng paporitnya Joko Tarub je. Lagipula semakin hari semakin simbah rasakan kontes milih widodari-widodari ini semakin beragam. Ada Miss Universe, ada Miss Asean, Miss Call (ini ajang mencari Putri berbakat bidang Telpon seluler), Pemilihan Putri Indonesia, Putri Daerah, Putri Pantai, Putri Malu, Pemilihan gadis Cover Girls dan lain sebagainya.

3. Andhe-Andhe Lumut
Hwaduh ini lebih kacau lagi. Di adegan poro Klenthing dicegat sama Yuyu Kangkang, wah... ada adegan Sex Party Orgies, demi tercapainya kekarepan bisa nyabrang kali. Ini mendidik para gadis untuk melacurkan diri untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Lihatlah mal-mal, Blok M, atau dimanapun pusat perbelanjaan berada, mesti disitu sudah banyak berkleweran poro Klenthing tadi. Mulai Klenthing Ijo, Abang Biru, Coklat, Blontheng, Lorek sampai kelir Parang Rusak.. ada semua. Mereka sedang menunggu para Yuyu Kangkang me-yuyu-i dan meng-kangkang-i mereka agar bisa dapat HP, duit, dan segala piranti hidup serta piranti dugem sehari-hari mereka.

Lagi pula nama Yuyu Kangkang ini rancu. Ini bisa mengacaukan identitas seksual. Kalo Yu itu dipakai orang jawa untuk perempuan. sedangkan Kang untuk kaum laki. Dipakai bareng bisa menyebabkan kebingungan identitas seksual. Macem pendidikan dalam film Teletubbies, si Tinki Winki, Dipsi, Lala, dan Po, semuanya gak jelas identitas seksualnya. Malah ada yang berpendapat bahwa kucir rambut mereka itu melambangkan kaum homoseksual, baik itu gay ataupun lesbi.... wah kok sansoyo nggladrah teori simbah... Yang gak percaya jangan diteruskan mbacanya.

4. Sangkuriang
Ini jelas-jelas dongeng 21 tahun ke atas. Muatan pendidikan seksnya lebih kacau lagi. Ada incest, ada juga bestiality... wuih pengarang dongeng jaman dulu ternyata fantasinya semprul juga.

5. Loro Jonggrang.
Ini ngajari curang dalam tender proyek maupun nguriki proyek.

6. Dongeng Ki Ageng Selo.
Ini membangkitkan daya takhayul dan khurafat. Jelas-jelas bertentangan dengan Ki Ageng Benjamin Franklin yang memang bisa nangkep petir.

Untuk itu simbah saranken ngasih dongeng yang membangun buat anak-anak. Kecuali kalo sudah Lungsuran Anak-anak... sudah bisa milah dan milih. Itu saja tetap harus selektif milih tontonan.