Thursday, June 29, 2006

KERAJAAN TUHAN


Pemimpin tahta suci kerajaan tuhan divonis 2 tahun. Begitu divonis sang penjelmaan molekat Jibril langsung misuh-misuh dengan wahyunya, yang berisi ancaman. Mungkin kalo naik banding dan menang, ancaman kutukan itu akan ditarik. Kalo bandingnya kalah juga, bahkan masa hukuman ditambah jadi 3 tahun, si Lia eden ini akan tambah misuh-misuh juga. Maka turunlah wahyu pisuhan yang bertubi2. Trus kasasi... blaik ternyata kalah juga, tambah misuh-misuh lagi. Iki molekat cap opo tho...??

Para pluralis menganggap vonis itu tidak pantas, karena menghukumi keyakinan seseorang. "Ya biarin saja toh, wong itu keyakinannya. Mau nerima wahyu apa ilham apa wangsit kan urusannya sendiri. Jadi ya harus kita hormati dong..." begitu ucap mereka.

Termasuk rekan saya yang setengah kenyung dari tlatah Rembang, mendukung statement para pluralis itu. Simbah jadi gerah. Karena ini menyangkut keyakinan umat Islam juga. Agamanya diobok-obok. Ini simbah kutipkan wahyu dari sang Liar (bukan salah tulis... memang bukan Lia, tapi Liar yang artinya tukang Gabrul)..


Wahyu Perihal nabi Muhammad

“Adapun Nabi Muhammad Kubangkitkan di Betawi. Tak akan pernah kausangka dan tak ingin kaupercaya. Tapi benarlah ruhnya itu adalah ruh Muhammad............

Nah, silaken dipahami... Nabi Muhammad bangkit di Betawi... bujug buneng ...busseeeeet dah. Emangnya ondel-ondel apa? Nanti naik haji tinggal tawaf di monas aja. Lempar jumrah di gedung DPR, karena biasanya disinilah para demonstran sering lempar-melempar melawan aparat keamanan. Bagaimana bisa ini dibiarkan, sebagaimana omongan kaum pluralis..??

Simbah iseng-iseng mendatangi seorang kaum pluralis, trus bilang... "Ndul, kalo simbah bilang padamu, bahwa simbah semalem menerima wahyu... kamu percaya dan masih menghormati simbah apa tidak..?"
"Wah percaya tidak percaya itu urusan simbah, tapi itu harus dihormati mbah.... jangan dibantah", jawabnya.
"Gini Ndul, simbah menerima wahyu isinya simbah disuruh mbacok gundulmu..." sahut Simbah enteng. "Gimana kalo Simbah njalani keyakinan simbah ini... ini wahyu lho Ndul.... terimakasih kamu mau menghormati. Sekarang simbah tak ngungkal (ngasah) golok, kamu jangan ke mana-mana ya Ndul...!"
Si Ndul (Simbah lupa nama panjangnya... mungkin Bajindul atau si Gundul...mbuh lah) langsung plonga-plongo.

"Wah ya jangan gitu mbah.... ya jangan wahyu yang nyilakain orang, lha saya hormati kok trus dibacok...."
"Nah itulah Ndul, penghormatan kepada keyakinan orang, itu ya nyawang gitoknya orang lain tho... jangan asal mbacot. Kalo ada orang ngaku2 nerima wahyu trus isinya ngaco agama orang lain itu kan sudah melukai hati jutaan orang. Masih mending nerima wahyu suruh mbacok gundhulmu. Yang luka cuma ndhasmu yang otaknya rada slewah itu."
"Tapi keyakinan kan harus dijalani dan disyiarkan mbah..."
"Lha kalo keyakinan simbah tadi dijalani dan disyiarkan, mestinya sekarang ndhasmu moncrot getih Ndul. Trus simbah ditangkep pulisi dan diadili... gitu kan? Ya sama saja yang dilakoni sama Molekat wedhok si Lia eden itu. Kalo divonis 2 tahun... ya wajar saja. Nanti kalo keluar penjara 2 tahun lagi dan belum tobat.. ya tuntut lagi.. 2 tahun lagi gak papa lah... sampe modarnya."

Sebagai penutup simbah kutipkan beberapa wahyu yang katanya diterima Lia eden dari tuhannya.

Wahyu Perihal Gus Dur

“Adakah kamu terlahir sebagai manusia saat ini dan menjadi mulia sebagai presiden? Selayaknya kamu tahu bahwa kau Kujadikan pemimpin negara dan ulama, yang ketika saatnya kamu memerintah, bangsamu ini bercitra buruk karena ulahmu. Apa yang ingin kauproteskan pada-Ku, sedangkan kamu tak lagi berdiri di atas kekuasaanmu? Kau sedang melayang di atas neraka....."

“Sidang istimewa tak akan menurunkannya bila Aku tak berkenan menurunkan dia. Aku berkenan menjadikannya pemimpin yang tak bisa mengendalikan diri dari perintah jinnya itu. Dan bangsanya tak berdaya menahannya. Perilaku Gus Dur adalah perilaku dajjal yang memperalatnya.........."

Wahyu perihal Nabi Isa

"......Dialah Lia yang diselubungi Ruhul Kudus, yang bersamanya menyampaikan pengadilan-Ku dan wahyu-wahyu-Ku. Dia dan anaknya, Ahmad Mukti, menyibak kisah di Wahyu 12, ‘Perempuan dan Naga’. Dialah Nyi loro kidul, si ular naga merah yang memusuhinya dan merampas anaknya dan dibawakan kepada-Ku. Dan pergilah Mukti meninggalkan ibunya dan dia pun membawa beban salibnya dan menebus dosa umatnya yang menuhankan dia......"

Monggo dipun penggalih...!

Tuesday, June 27, 2006

Antara Sakit Jiwa dan Kesurupan

Dua peristiwa di atas adalah peristiwa yang kejadiannya kadang sama. Hanya saja ketika sang dokter yang periksa, kesimpulannya selalu merujuk kepada kelainan kejiwaan yang sudah terstandart pada pedoman diagnosa penyakit jiwa (PPDGJ). Namun apabila yang memeriksa adalah "Wong Pinter" dengan segala atributnya, maka biasanya yang muncul adalah fatwa-fatwa sakti yang mengatasnamakan makhluk halus. Maka disebutlah segala macam nama jin, setan, wewe gombel , kuntilanak dan rombongannya.

Simbah pernah dipanggil untuk menangani suatu kejadian unik, dimana ada seorang perempuan muda (usia 21 tahun) mengalami gangguan kejiwaan. Sang perempuan ngamuk, semua dipisuhi entek ngamek kurang golek. Waktu Simbah dateng, ha kok di dalam rumah sudah ada oknum dukun berjenggot, sedang jopa-japu japa mantra. Si pasien meronta-ronta dipegangi orang banyak, diiket. Simbah lihat, jidatnya mlonyoh. Usut punya usut ternyata habis dikompres air mendidih untuk ngusir jin yang ngganggu. Kasihan juga gadis ini, pikir simbah.

Waktu itu simbah suntik penenang, anti nyeri dan Simbah sarankan rawat di Rumah Sakit. Familinya gak setuju, menurutnya anak perempuan itu gak sakit, tapi cuma diganggu sama setan, jin dan bala tentaranya. Waktu itu yang nonton hampir sak gang situ tumplek blek.

"Wah iya", simbah mbatin. "Simbah baru sadar bahwa ini di depan orang banyak."
Jelas saja orang lebih suka disebut kesurupan, kesetanan, kejinan, diganggu jin dan makhluk halus.... daripada harus malu menanggung fakta bahwa anaknya mengalami Gangguan Kejiwaan. Inilah kunci tumbuh suburnya kepercayaan klenik dan takhayul.

Masyarakat agamis pun seringkali nambah-nambahi parah kondisi ini, bukannya menghapus segala macem kepercayaan koclok seperti itu. Suatu ketika teman sejawat Simbah yang sedang bertugas di UGD RSJ Mangunjaya Solo, kedatangan pasien ngamuk dari suatu pesantren. Pasien ini dibawa oleh Ustadznya. Katanya sih ustadz dari ulama salaf. Dia bilang, "Pak Dokter, ini orang sudah ane usir itu jin dan setan yang merasuki tubuhnya, hanya saja jumlah jin dan setannya bejibun, ada sebelas.... ane sudah usir sembilan. Ini tinggal dua ekor... ane kewalahan, jin nya kelas wahid, tenaganya super mantaf... silaken dokter tangani ..!"

Wah ini jin apa kesebelasan jin... merasuki kok rombongan. Maka teman sejawat simbah itu nggak perlu itu mbaca jopa-japu... cukup ambil dizepam satu ampul... lantas mak blusssh.... pasien disuntik... dan 15 menit kemudian pules... diem tidur. Ealaah... jinnya sama suntikan keok. Jin super mantaf yang dibacain ruqyah macem2 kok kebal, sama obat temuan orang yahudi kapir jahiliyah malah mempan.... sing ediyan sopo iki...??

Simbah bukan orang yang tidak beriman pada hal yang ghaib. Tapi mbok ya pada tempatnya. Kalo memang gangguan jiwa, sudahlah diterapi secara kejiwaan yang komprehensif, insya Allah malah nyunah. Tapi kalo diaku-aku gangguan jin hanya karena malu dan kewirangan kalo dikatakan Sardi (Sarapnya ndadi) atau Sarno (Sarape keno), wah ini sudah menutupi fakta....

Simbah mau menutup postingan ini dengan satu kisah lagi. Ada pembantu Rumah Tangga (PRT) yang kata orang kesurupan. Maka dipanggillah kyai lokal spesialis ahli pengusir roh jahat. Setelah dihewes-hewes dan disembar-sembur, ternyata malah semangkin parah. Sang juragan dari PRT tadi langsung ngontak simbah.
"Nyuwun tulung mbah, mang usadani nopo mriku, kajengipun saras." katanya
"Nggih, pak"... sekali lagi simbah cuma ngasih Diazepam 10 mg injeksi. Dan efeknya PRT tadi langsung lemes dan tertidur. Begitu bangun, simbah tanya sudah nyambung. Ternyata PRT ini sedang dirudung masalah mau dijual sama temennya ke Batam untuk jadi PSK. Tapi sempat melarikan diri.... dan mulailah waham kejar alias paranoidnya muncul. SAering teriak-teriak seperti orang dikejar-kejar setan.

Oalah... mangkanya jopa-japunya Mbah Kyai Dukun gak mempan.....

Friday, June 23, 2006

NABI PEREMPUAN

Wacana mblero ini dilontarkan oleh seorang Dosen IAIN. Namanya juga dosen, apalagi IAIN, mestinya wacana ini dianggep serius oleh pendukungnya. Apalagi kalo titelnya bisa sak renteng sepur. Lha apa ada landasan dalilnya?

Sang dosen menyahut : Ada, bahkan di dalam Al Qur’an. Coba dibuka surat Al Qashas (surat 28) ayat 7. Bunyinya : “Wa auhaina ilaa ummi Muusa an ardhi’iih……(dst)”. Yang artinya (menurut Dosen IAIN) : “Dan Kami wahyukan kepada Ibunya Musa : Susuilah dia (Musa)……”
Jadi karena Allah mewahyukan –yakni dalam bahasa Arabnya “Auha”- maka sang ibu itu otomatis Nabi. Karena dia menerima wahyu dari Allah. Weleh…. Mangsuk ngakal juga…… ngakal bulus.

Salah seorang teman Simbah, ahli sejarah yang tidak mau disebut namanya, mengomentari : “Itu Dosen kenyung setengah koclok.”

Simbah menegur, “Wah jangan gampang memvonis kang!”
Dia mengurai keterangannya, “Lha tidak kenyung bin koclok itu gimana..? Ha wong nerjemahkan AL Qur’an kok modal dengkul. Lha kalo semua kata “Auha” diartikan memberi wahyu, coba mbok dibuka Surat An Nahl (16) ayat 68, bunyinya “Wa auhaa rabbuka ilan nahli……..(dst)” . Dalam bahasa ngalam Indonesia berarti “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada Lebah……(dst)”
Nah disini keliatan kenyung dan kocloknya dosen itu. Lha kalo kata “Auha” itu selalu diartikan “mewahyukan”, maka disini lebah-lebah itu juga harus dianggep Nabi. Ha wong mereka juga menerima wahyu sebagaimana Nabi dan juga ibunya Musa yang dianggep dosen tadi sebagai Nabi.”

“Lha lantas yang bener gimana kang?” simbah mengusut.
“Sing bener ki ya, tidak semua kata auha di dalam Al Qur’an itu selalu diartikan mewahyukan atau memberi wahyu. Bisa berarti memberi ilham, bisa juga diartikan memberikan insting, bahkan di ayat yang lain syaitan itu mewahyukan pada para pengikutnya. Mewahyukan dalam artian membisiki. Dadi ora gebyah uyah. Dosen ngisin-isini tenan, wis jan nganti ra nduwe isin.”

Simbah lantas inget Surat An Nahl (16) ayat 43 yang artinya : “Dan tidaklah kami mengutus (seorang Rasul) sebelum kamu (wahai Muhammad) melainkan dia itu laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka tanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui!”

Usut punya usut ternyata sang Dosen itu menyeponsori salah seorang perempuan Indonesia untuk dijadikan Presiden. Oalah le..le.. Ayat kok didol murah… Mampir ngombe bakulan ayat suci, mesakno awakmu. Isih luwih resik bandane pemulung le…le..

Wednesday, June 21, 2006

DUIT


DUIT


Makhluk padat yang satu ini memang bisa menggoyang apa pun. Semua bisa goyah karena 4 hurup ini. Barang bisa dibeli, loyalitas bisa dikantongi, perempuan bisa digandengi, apalagi..??

Belum cukup itu, kyai pun bisa dibeli. Barang yang tadinya haram, dengan duit bisa bikin kyainya cadel, sehingga jadi HALAM. Tambahi gambar Soekarno-Hatta, yang lidahnya sudah cadel jadi tambah sariawan bibirnya, sehingga gak bisa bilang "M" maka jadilah "HALAL".

Perempuan model apapun bisa disetir dengan duit. Yang kaya bisa disuruh-suruh apapun, apalagi yang kelas kere. Termasuk dalam hal berpose untuk Majalah yang konon untuk pria dewasa. Alasan yang selalu diajukan adalah "Kebebasan berekspresi". Padahal sejujurnya, ini murni urusan sandang pangan dan napsu setan.

Pose awal memang masih klamben utuh. Lama-lama yang atas semangkin mlotrok, yang bawah semangkin naik. Sampe akhirul kalam, suatu ketika tinggal setutnya doang. (Setut = sabuk).

Hidup memang Mampir Ngombe. Sekali mampir kok tujuannya hanya sekedar bakulan sampil sama perangkat ASI lho... Mbok ya harga diri dan tubuhnya jangan dijual semurah itu tho. Kenapa dijual murah? Karena yang beli makhluk hina dan rendahan macem Pemred majalah esek-esek itu. Cobalah dijual kepada makhluk mulya yang punya iman. Harga diri dan tubuh para perempuan itu akan dibeli dengan harga yang pantas... bukan dengan duit.

Wis klop pancene. Tumbu oleh tutup. Nepsu ketemu nepsu. Iman ketemu Iman.

MIE SOOH

Jenis mie ini memang nggak ada di warung bakmi manapun. Karena yang dimaksud memang bukan nama makanan, namun “MISUH”. Satu kata yang susah dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Beragam kata yang masuk kategori “misuh” ini susah dicari di dalam kamus Bahasa Indonesia paling mutakhirpun, kecuali beberapa nama hewan yang diucapkan dengan nada khas tertentu, semisal : wedhus, asu,, celeng dlsb. Tapi kata-kata macem : bajindul, bajinguk, ndladuk, diamput, ndlogok dlsb…. merupakan kata-kata tanpa makna yang kalo diucapkan dengan intonasi tinggi, jadilah misuh.

Tarohlah kata wedhus, binatang qurban berkaki empat ini jika diucapkan saat Idhul Adha maka tidak bermakna misuh. Tetapi jikalo diucap saat jidat kejedot kusen trus ngucap “….Wedhuuusss..”…nah, jadilah misuh.

Herannya ada ustadz simbah yang saat pengajian seringkali misuh. Malah bilang ,”Iku ono dalile lee…”. Wah, jos tenan… misuh ada dalilnya. Akhirnya ustadz simbah ngasih keterangan. “Lha wong Gusti Allah wae nate misuh-misuh lho le…tak kandhani kene…”
“Lha wonten Al Qur’an surat nopo ayat pinten tadz?” simbah nanya.
“Iki, surat Al Lahab, ‘Tabbat yadaa Abi Lahabiw wa tabb’… kuwi coro aluse ngono miturut Al Qur’an artine: ‘ Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan celakalah!!’ lha ukoro Tabbat Yadaa kuwi ukoro sing digunakne wong-wong arab kono dinggo misuh-misuh le… Coro jowone ngoko kasar ngono keno diarani “Pancen ndlogok tenan si Abu Lahab kuwi!!” Tapi iki lak Al Qur’an le, bosone wis digawe alus karo Sing Moho Alus. Dadi ra mungkin pisuhane kasar. Ukoro-ukorone ora mungkin porno. Ha nek moco Al Qur’an kok rasane koyo moco majalah Playboy trus dianggep porno, kuwi lak mergo sing moco ki wis impoten akibat penyakit gulane wis parah. Dadi pantasine nggladrah. Ha wong moco ayat perintah menyusui kok mbayangke Ayu Azhari nyusoni tanggane lho… Yo dadi porno kae no lee….”

Wah mathuk thok iki… oleh dalil misuh.
Ustadz melanjutkan lagi wejangan tafsirnya, “Tapi misuh kuwi kenone diarahno menyang wong-wong kapir kures jahiliyah (baca: kafir Quraisy jahiliyah) lan-lan sing sak bongsone le. Misuhi wong munapik, pasik, musrik.. Ora keno misuhi angin, kewan, lan samubarang makhluk e Gusti Allah. Lha yen wong-wong sing kapir musrik kuwi pancen pantes dipisuh-pisuhi le…”
Nah, bagi yang masih gemar memisuh, camkan nasehat ustadz simbah di atas.

Tuesday, June 20, 2006


NASEHAT BUAT PENCARI KEBENARAN

  1. Carilah hal yang benar.
  2. Perhatikanlah, bahwa yang benar itu benar-benar benar.
  3. Telitilah lagi, agar yang benar-benar benar itu sungguh benar-benar benar.
  4. Benarkanlah apa-apa yang tidak benar-benar benar.
  5. Benar kan ...?