Friday, September 01, 2006

PINDAH LINCAK

Dengan berat hati simbah ingin memberitahukan bahwa Cakruk dan Lincak simbah yang ada sekarang ini, simbah pindah ke PITUTUR. Banyak faktor yang melatarbelakangi serta mengemperdepani pemindahan ini. Yang jelas, dengan koneksi internet simbah yang sering bikin hipertensi kumat, situs blogger semakin njelehi untuk dibuka. Publishing gak kelar meski ditinggal ngising.

Pakai Performancing juga tidak menolong. Karena sering error. Maka dengan ini Simbah menyataken pindah ke Lincak dan Cakruk yang baru. Yakni PITUTUR.

Sugeng Mampir.

Tuesday, August 29, 2006

THINK AND ACT

Sedikit pake judul boso londho gak papa. Simbah mengamati ada beberapa type manusia dilihat dari motivasi amal dan kelakuan mereka. Motivasi ini biasa disebut niat di dalam amal manusia.

1. Think locally and act locally
Ini model pekerja yang terlalu nggethu kerja, untuk mengejar setoran demi kebutuhan domestiknya. (Hayyah, bosone ra nguati) Maksudnya type orang yang bekerja –di mana saja dia bekerja- yang motivasi kerjanya hanya melulu demi keperluan pribadinya. Ataupun kalo gak mau disebut keperluan pribadi, ya keperluan pribadi dan kelompoknya. Padahal sebenarnya boleh jadi apa yang dia perbuat itu bisa bermanfaat demi keperluan manusia banyak. Tapi target kerjanya hanya melulu demi sesuap nasi, demi mulut sang isteri (agar tetep bisa makan dan tidak nyerocos), agar bisa bayar SPP anaknya dlsb.

Ini model tukang bangunan yang saat membangun suatu gedung dia ditanya, “Lagi ngapain loh?” Dia jawab dengan enteng, “Gue sedang menumpuk bata, kagak liat emang mata lo?” Padahal dia sedang membangun suatu gedung pencakar langi

2. Think locally and act Globally
Ini model orang yang suka biayakan ke sana kemari, kembola-kembali ngrambah negara manca, deal sana-deal sini, bahkan kalo perlu sampe angkasa luar dikangkanginya. Namun tetap saja niat dan motivasinya demi kocek, demi anak-isteri atau demi keluarga. Tidak lebih. Pecicilannya sampai kesana-kemari itu underannya melulu demi kemanfaatan segelintir orang saja.

Orang ini mungkin negosiator ulung, biasanya diberi kesempatan menjelajah dunia. Tapi ya itu… tetep motivator utamanya cuma demi kepentingan diri dan klannya saja. Koruptor dan kolutor memiliki sifat ini.

3. Think Globally and Act locally
Nah ini paporit simbah. Model manusia ini adalah orang mau peduli terhadap kepentingan manusia banyak. Meskipun yang dilakukannya terbatas di ruang lingkup tertentu, namun efek dari tindakannya memberikan efek global.

Ini model tukang bangunan yang saat menata batu bata di suatu sudut proyek bangunan ditanya, “Lagi ngapain loh?” Dia jawab dengan mantab, “Gue lagi mendirikan gedung pencakar langit, emang merem mata lo, sampe kagak liat gue mbangun ini gedung?”

Perlu diketahui, Rasulullah Muhammad saw merupakan profil yang tepat untuk manusia golongan ketiga ini. Berpikir untuk seluruh alam, namun dengan aksi lokal yang menjadi prototype kerja besar seluruh dunia.

4. Think Globally and Act Globally.
Ini jenis manusia langka. Mungkin anda berpikir ini lebih tepat buat propil seorang sekjen PBB. Halah, belum tentu. Sekjen PBB itu bisa masuk kategori kedua. Biayakannya ke sono-kemarinya hanya demi urusan duit, atau agak luas lagi demi mengharumkan nama bangsanya, atau agak lebih luas lagi demi negara-negara yang mensponsorinya.

Atau anda berpikir ini lebih tepat buat propil seorang Miss Universe dengan segala misinya. Hayyah… lebih gak ngambah lemah lagi. Wong ini orang wira-wiri berdiri dengan segudang sponsor di belakangnya kok. Keliatannya nyantuni korban bencana, nengok anak-anak yatim, kunjungan ke Panti Jompo, tapi ya intinya gimana produk yang mensponsorinya bisa laku dan laris, mengangkat image produk sambil sedikit pamer body semlohai kesana-kemari, siapa tahu ada duda milyarder sempat nglirik dan besoknya nglamar….. (Simbah embel-embeli: “yah, gak semuanya begitu sih”)

Klasifikasi ini boleh jadi dianggap mbambung saja. Agak mentereng karena pake boso londho gak ketang sak ndulit. Meskipun begitu, coba dipikir, sampeyan masuk kategori yang manah

Sunday, August 27, 2006

KAPIR MISKIN

Judul kok ciloko mencit. Udah miskin, kapir lagi. Tapi begitulah hidup manusia. Simbah banyak menyaksikan kemiskinan yang dibalut tingkah laku kekafiran. Ada yang berdalil, kefakiran memang lebih dekat kepada kekafiran. Omong kosong, ini bukan dalil, ini dalih saja. Mengkambingkan hitamkan kefakiran dan kemiskinan.

Memang banyak kejadian kejahatan yang didorong oleh terdesaknya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Pelacuran, penjarahan, perampokan, penodongan, pembunuhan, penjambretan dan tindakan kriminil lainnya. Yang terakhir yang mbikin simbah sempat mem"bangsat-bangsat"kan dalam hati adalah tindakan premanisme berujung pembunuhan di kampus IKIP NTB. Tindakan Kapir oleh preman miskin, guna menyambung hidup, mengakhiri hidup.

Sekilas kemiskinan merekalah yang mendorong kekapiran mereka. Padahal beking si orang miskin ini orang-orang kaya. Betul di lapangan si kaum papa ini yang bertindak kriminil. Tapi yang di belakang mereka adalah wong-wong sugih mblegedhu.



Simbah punya langganan di bengkel, dia raja judi togel di wilayah simbah. Dia cerita upeti tiap bulannya untuk beking security nya saja sampai 2 juta ripis. Tahun ini isteri sang raja judi ini berencana naik haji. Hayyah... perhatikanlah, apakah kemiskinan yang mendorong mereka berbuat itu? Apakah kemiskinan juga yang mendorong pihak security ikut ngalap berkah hasil judi togel para bangsat ini di jalanan?

Kasus di NTB misalnya. Betul yang jadi pembunuh adalah para preman. Tapi bukankah aktor intelektualnya justru jajaran orang-orang berduit yang memang diakui sebagai kaum intelektual?

Kasus-kasus penggusuran, yang nggusur dan ngusir adalah kaum kongkonmlarat, namun pelaksananya adalah aparat Trantib berpenghasilan UMR. Jika harus kotor namanya, cukup aparat Trantibnya saja yang belepotan. Oknum kongkonmlaratnya tahu bersih aja.

Meskipun ada tindakan kejahatan dari kaum miskin, maka itu kebanyakan merupakan buah kedholiman kaum kaya yang tidak mau berbagi dengan mereka. Bahkan  kejahatan yang dilakukan oleh kaum pakir ini, merupakan kepanjangan tangan kebejatan kaum kaya dan intelek yang memanfaatkan kemiskinan mereka.

Tadinya simbah mau mem"bangsat"kan preman yang bikin rusuh di kampus IKIP NTB. Tapi rupanya ada yang lebih 'bangsat' dari mereka. Dan justru itu dari kaum intelektual yang tebal duitnya.

Konon katanya kebodohan harus diberantas. Kemiskinan harus dibasmi. Ha kok kejahatan dan kekapiran lebih banyak datang dari kaum sugeh mblegedhu dan pinter-pinter ya... Nodong, ngrampok, njambret dan njarah, meskipun bareng-bareng, nilainya kalah jauh dengan sekali korupsi yang dilakukan Dirut Pertamina. Memang wong-wong sugeh kuwi njaluk dirut nyang cagak tenan kok... wong-wong sugeh sing "mbangsat".... Yang dermawan, ditunggu-ditunggu, moga-moga tidak seperti 'cebol nggayuh lintang.'

Thursday, August 24, 2006

MATI ALA RUWET

Belum cukup hidup dalam keruwetan, manusia lebih suka memilih mati dengan ruwet pula. Ini dilakukan oleh hampir semua suku dan adat di dunia. Kematian yang selayaknya ringkes dan sederhana, menjadi ruwet dan penuh pernik-pernik gak penting.

Setelah mati sebenarnya jenazah tinggal dirawat untuk dikubur saja. Namun embel-embelnya banyak sekali. Dari sabang (yang konon tradisinya Islam) sampai merauke (dengan tradisi pedalamannya) semua tak luput dari hal-hal tersebut.

Di dalam tradisi yang berbau Islam pun masih banyak sinkretisme yang merasuk di dalam upacara pemakamannya. Padahal Islam adalah ajaran yang palingringkes di dalam hal upacara penguburan ini. Sebagai contoh simbah cantumkan di bawah ini :

  1. Jenazah gak segera dikuburkan sebelum semua anggota keluarga melihat untuk terakhir kalinya. Ini syarat yang ruwet. Kadang karena harus memenuhi syarat ini, jenazah harus nginep bermalam-malam untuk menunggu anaknya yang ragil yang masih diperjalanan menembus hutan di pedalaman Kaltim sana.
  2. Sebelum jenazah dikuburkan, semua anggota keluarga njalani upacara "brobosan". Yakni mbrobos, merangkak di bawah peti jenazah. Konon biar gak inget terus sama yang mati.
  3. Penggali kubur harus slametan dulu, biar galiannya lancar, tidak rembes air.
  4. Setelah dikubur, masih banyak ritual yang harus dijalani. Macem 3 harian, 7 harian, 40 harian, 100, lalu mendhak satu dua, tiga...sampai nyewu hari.
Kadang hal-hal ini terkait dengan satu agama, tapi banyak yang rancu. Sudah banyak unsur sinkretisnya. Campuran keyakinan Hindu, Budha, Islam, Kong Hu cu,...yah jadinya keyakinan gado-gado. Akhirnya dinamailah 'kebudayaan' atau 'tradisi'.



Ini belum kalo pas musim mendekati bulan puasa maupun syawalan. Kuburan yang biasa sepi, jadi serasa pasar kaget. Tukang doa pun panen. Mau doa yang makbul... ada taripnya. Mau doa yang sederhana, boleh juga. Murah.... gak ditanggung makbul. Makin mahal, makin panjang doanya. Peziarah yang naik mobil mewah dijamin dapet doa yang panjang-panjang.

Yang ngalap berkah disini tidak hanya tukang doa. Penjual kembang atau bunga pun dapet rejeki kagetan ini. Bunga menjadi komoditi laris acara ziarah kubur ini. Gak tahu dari agama mana yang mengajarkan ini semua, yang jelas ini menambah ruwet prosesi kematian yang memang seharusnya sederhana.

Kasian yang hidupnya miskin. Mungkin keluarganya gak layak masuk surga menurut mereka. Lha gimana? Mbayar tukang doa gak mampu. Beli kembang gak gableg duit. Malah ada yang keluarganya gak diacarakan 3 harian, 7 harian dst, diomongin sama tetangga kiri kanannya, "ngubur orang kayak nanem bangke kucing saja." Maksudnya gak ada upacara apa-apa setelah itu.

Kalo dituruti tradisi ini, memang yang berhak masuk surga cuma orang-orang kaya saja. Lha dari sejak ngubur sampai "nyewu" itu kalo dikalkulasi biayanya bisa sampai ratusan juta bahkan milyaran. Ngundang ustadz2 dan kyiai2. Ngamplopi para tamu undangan. Sak amplop isinya variatip. Kisaran sepuluh rebuwan sampe gambar sukarno-hatta. Lha wong mlarat ngempet khan gak akan mampu menggelar tuntutan tradisi semacam itu. Ya sudah, di'bangkai-kucing'kan sama tetangga ya harus pasrah.

Belum lagi ini ditambah biaya pemakaman atau penguburan yang makin ngudubilah setan. Gak percaya? Coba baca di sini atau bisa juga baca di sini . Mumet dan ruwet memang urusan wong mati ini. Ruwet yang dibikin sendiri oleh pelakunya.